Kisah & Hikmah Haji

Manasik Haji dan Umroh

Haji Mandiri

Recent Posts

Daftar Bank Syariah Penerima Tabungan Haji

2:25 PM Add Comment
Daftar Bank Syariah Penerima Tabungan Haji - Mendaftarkan diri untuk mengikuti ibadah haji reguler hanya dapat dilakukan di Kantor Kementrian Agama dan bank Syariah. Perubahan Regulasi dari Kementrian agama menjadikan bank-bank konvensional tidak lagi dapat menerima biaya setoran haji. Hanya bank syariah saja yang diperkenankan menerima setoran biaya haji.



Adapun Beberapa bank syariah yang bisa membuka tabungan haji sebagai berikut.
a. Bank Syariah Mandiri
b. Bank BRI Syariah
c. Bank Permata Syariah
d. Bank BNI SYariah
e. Bank Muamalat
f. Bank Niaga Syariah
g. Bank Mega Syariah
h. Bank-bank Syariah lainnya.

Anda dapat mencari informasi terkait daftar bank penerima setoran haji lainnya. Seperti Bank Panin Syariah Bank Allianz Syariah atau bank lainnya. Semua bank syariah insya Allah memiliki program tabungan haji. Selama bank tersebut telah diizinkan oleh Kementrian Agama untuk menerima setoran Tabungan haji.

Untuk mendaftar ibadah haji, haruslah membuka rekening khusus TABUNGAN HAJI. Biasanya rekening tabungan haji tidak dapat diambil sewaktu-waktu. Setiap bank memiliki ketentuan berbeda tentang rekening ini. Ada bank yang mengharuskan saldo minimal saat pembukaan rekening, Rp. 100.000, ada pula yang Rp. 500.000, dan ada pula yang hanya Rp. 50.000. Kebetulan saya memilihkan orang tua saya di Bank BRI Syariah. Setoran awal ringan hanya Rp. 50.000,- saja.

Baca [ Syarat pendaftaran Ibadah Haji Reguler ]

Berapa besaran  biaya untuk mendaftar haji. Saat ini, biaya mendaftar haji adalah Rp. 25.000.000,- yang harus disetorkan oleh Jamaah haji kepada Rekening Kementrian Agama Republik Indonesia. Ini sesuai dengan ketentuan Menteri Agama sejak tahun 2010. Hingga saat ini (2015) belum ada perubahan tentang biaya setoran awal ini. Sebelum mendaftar, jumlah tersebut harus sudah masuk rekening tabungan Haji yang kita miliki. Jadi, di dalam rekening tabungan yang anda miliki minimal harus terisi Uang sejumlah Dua puluh lima juta rupiah ditambah setoran awal di tiap bank.

Dulu, bank-bank syariah bersaing untuk mendapatkan jamaah haji. Mereka memiliki program talangan haji. Bagi orang yang belum memiliki dana Rp. 25 juta, dapat mengajukan talangan ke bank untuk bisa mendaftarkan ibadah haji. Tapi itu dulu, sekarang kabarnya sudah tidak ada lagi program talangan haji. Tapi, kok beberapa waktu lalu saya melihat ada salah satu bank swasta syariah  yang menawarkan brosur dana talangan haji. Hmm. Entahlah. Hal ini dikarenakan, dana talangan ini berimbas pada panjangnya waiting list/ daftar tunggu jamaah haji. Untuk tahun 2015 ini saja, saat saya mendaftarkan orang tua saya, musti harus menunggu hingga tahun 2035. Padahal usia ayah saya, saat ini  sudah 60 tahun. Masya Allah, harus ekstra sabar. Mudah-mudahan saja, daftar tunggunya dapat maju kencang... hmm.

Demikian informasi dari saya tentang Bank Penerima Tabungan Ibadah Haji. Anda dapat mencari informasi lebih lanjut dengan mengunjungi bank syariah pilihan anda. Semoga bermanfaat.
(Kabar Haji)

Syarat Pendaftaran Haji Reguler

2:22 PM Add Comment
Syarat Pendaftaran Haji Reguler - Ibadah haji merupakan rukun Islam yang ke-5. Melaksanakan ibadah haji adalah ibadah yang sangat mulia. Umat Islam banyak yang ingin mendaftarkan diri untuk melaksanakan ibadah haji di tanah suci. Baik yang belum melaksanakan maupun yang sudah menjalankannya. Semua berkeinginan untuk melaksanakan ibadah yang mulia ini.

Apakah anda juga ingin mendaftarkan ibadah haji? Sudahkah anda mengetahui syarat-syarat pendaftaran ibadah haji? Belum lama ini, saya mengantarkan orang tua untuk mendaftarkan ibadah haji jalur reguler.


Berikut akan saya tuliskan pengalaman pribadi tentang langkah-langkah pendaftaran ibadah haji.

1. Buka tabungan haji terlebih dahulu di Bank Syariah. 

Nah, ini langkah pertama mendaftarkan haji. Kita harus membuka tabungan haji terlebih dahulu. Menurut informasi yang saya ketahui, saat ini, seluruh bank syariah di Indonesia bisa digunakan untuk membuka tabungan haji. Anda baiknya mencari bank syariah terdekat di daerah tempat tinggal anda. Atau bisa juga bank terdekat dengan kantor kemenag di kabupaten/kota tempat anda tinggal.

Silakan anda mendatangi bank syariah yang dekat dengan domisili anda. Tanyakan pada costomer service tentang tabungan Haji. Semua bank syariah memiliki Tabungan Haji. Setahu saya, bank-bank syariah telah ditunjuk oleh Kementerian Agama untuk menerima biaya setoran haji.

Baca [ Daftar Bank Syariah Penerima Setoran Biaya Haji ]

2. Dapatkan Surat Keterangan Sehat dari Puskesmas Kecamatan

Langkah kedua, silakan datang ke Puskesmas di kecamatan setempat di tempat tinggal anda. Kebetulan di kecamatan tempat saya tingal, ada 2 puskesmas. Saya biasa berada di puskesmas ke-2, namun saat saya hendak mencari KIR haji di puskesmas ini, saya ditolak. Saya diharuskan ke puskesmas induk, karena di sanalah yang bisa mengeluarkan surat KIR haji.

Awalnya saya ragu untuk mencari surat keterangan sehat di puskesmas. Lantaran ada pengalaman seorang pendaftar haji yang tidak memerlukan surat sehat dari puskesmas saat ia mendaftar ibadah haji. Pengalaman ini ia ceritakan di blognya. Silakan dibaca, tapi, saya lupa linknya. .. hehe.

Hal ini sesuai dengan peraturan menteri Agama yang terbaru No 29 tahun 2015, bahwa tidak ada syarat harus mencari surat keterangan sehat untuk pendaftar calon jamaah haji. Namun, rupanya belum semua wilayah melaksanakan ketentuan tersebut. Saya sendiri tidak tahu, apakah memang belum diberlakukan ataukah hanya untuk wilayah tertentu saja. Contohnya di kabupaten tempat saya tinggal. Masih menggunakan syarat lama datang yakni diperlukan surat keterangan sehat dari puskesmas.

Untung saja, saya telepon dulu ke Kantor Kementrian Agama Kabupaten Sukoharjo 0271 59314X dengan ekstension 105. Jadi, ada kepastian bahwa surat kesehatan diperlukan berikut syarat-syarat lainnya seperti foto 3 x 4 sebanyak 5 lembar dan 4 x 6 sebanyak 1 lembar.

3. Mendaftar di Kantor Kementrian Agama Kapubaten/Kota

Setelah melengkapi persyaratannya seperti Fotokopi tabungan haji, Fotokopi KK, Fotokopi Surat Nikah atau ijazah, Surat Kesehatan dan pas photo, langkah selanjutnya adalah mendaftar ke kantor Kementrian Agama kabupaten/kota setempat. Tanyakan saja ke seksi urusan haji.

Menariknya, sesampai di kantor Kemenag bagian pendaftaran haji, rasanya adem. Hehe, ruanganya meski sempit, namun begitu nyaman. Maklum, perjalan dari rumah hingga ke pusat kota sangat panas. apalagi di tengah suasana panas terik. Belum lagi terhalang proyek pengaspalan jalan. Macet plus panas terik begitu menyengat. Tapi semua itu terbayar saat berada di ruang pendaftaran calon haji. Di sana ruang itu dilengkap dengan AC yang membuat suasana sejuk.

Selain itu, juga terpampang hiasan dinding berupa Foto Ka'bah di Mekah dan Masjid Nabawi Madinah. Tak hanya itu, ada pula televisi layar datar yang menayangkan suasana Umrah secara live. Hmm, bener-bener deh. Rasanya begitu dekat dengan Baitullah. Labbaik, Allahumma Labbaik. Meski di rumah sering pantengin Masjidil Haram, namun suasanya jadi berbeda dengan saat mau mendaftarkan haji.

Ah, itu sih suasana di Kantor Kemenag di Kabupaten tempat saya tinggal. Saya tidak tahu bagaimana di tempat anda? Kemungkinan juga memiliki suasana yang dibuat sama. Hehe, kok jadi begini ya. Lanjut...

Sesampainya di sana saya diberikan formulir pendaftaran untuk diisi sesuai dengan data calon jamaah. Sementara persyaratan yang dibawa selain pas photo diminta oleh petugas untuk dilakukan proses pendaftaran. Foto yang disiapkan itu tidak diminta oleh Kemenag, ternyata digunakan saat melakukan proses switching di Bank penerima setoran biaya haji.

Setelah semua selesai, selembar SPPH (Surat Perintah Perjalan Haji) pun diberikan. SPPH inilah yang akan dibawa ke Bank untuk dilakukan proses switching.

4. Lakukan switching rekening tabungan haji di bank syariah

Langkah selanjutnya adalah kembali ke Bank Syariah tempat membuka tabungan Haji. SPPH dari kemenag diserahkan surat tersebut kepada pihak bank. Proses ini bisa anda lakukan hari itu juga. Namun saya melakukannya pada keesokan hari. Lantaran waktu sudah sore. Bank pun juga sudah tutup. Terlebih harus melewati lagi kemacetan jalan.

Pihak bank yang akan membantu dalam proses switching rekening tabungan haji kita. Di sana kita akan dimita foto 3 x 4, materai atau biaya pengganti materai, dan formulir pengiriman uang. Bank akan mentransfer biaya setoran awal  ibadah haji ke rekening Menteri Agama. Nomor rekening Kemenag pun menggunakan nomor unik. Kalau tidak salah angka 7 berapa kali gitu. Pokoknya angka 7 semua. Selanjutnya, kita tinggal menunggu proses pembayaran yang dilakukan oleh Bank.

Tada... pembayaran pun selesai. Kita tinggal teken oret-oret tanda tangan pada Bukti setoran.. beres deh. Nomor porsi pun berhasil kita dapatkan. Saya pun mendapatkan beberapa lembar bukti setoran asli dan duplikat yang sudah ditempel foto 3 x 4 dari calon jamaah. Bukti setoran inilah yang asli disimpan, dan duplikatnya diserahkan kembali kepada kantor Kementrian Agama.

5. Serahkan dokumen setoran BPIH ke kemenag Kabupaten 

Nah, anda sudah berada pada langkah terakhir. Langkah ini cukup mudah. tinggal menyerahkan bukti setoran kepada Kantor Kementrian Agama Kabupaten/kota tempat kita mendaftar tadi. Biasanya pihak bank menyampaikan bahwa waktu pengembalian setoran ini maksimal adalah 1 minggu. Oleh karena itu agar tidak lupa, disegerakan saja pengembalian dokumen formulir setoran BPIH ini. Agar kita segera plong, dalam melakukan proses pendaftaran ini. Setelah sampai ke kantor kemenag, anda akan diminta menuliskan nama jamaah pada buku/daftar pengembalian setoran BPIH, sebagai bukti bahwa setoran BPIH telah kita sampaikan.

Alhamdulillah. Kita telah berhasil mendaftarkan diri sebagai calon jamaah Haji Reguler. Tinggal menunggu proses selanjutnya. Tergantung berapa lama waiting list dari daftar tersebut. Saat ini saja, waiting list untuk Jawa Tengah sudah mencapai 20 tahun. Bayangkan, orang tua saya sudah berusia 60 tahun, masih harus menunggu 20 tahun lagi.. Masya Allah. Musti harus bersabar(Kabar Haji)

Hukum Berhutang untuk Haji

1:03 PM Add Comment
Hukum Berhutang untuk Haji
Pertanyaan: Apa hukumnya berhutang untuk menunaikan haji?



Jawaban:

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

Sudah kita ketahui bahwa salah satu syarat wajibnya haji adalah mampu, baik mampu harta sebagai bekal menunaikan ibadah haji dan mampu badan untuk menunaikan haji. Hal ini berdasarkan dalil di bawah ini:
{وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ}
Artinya: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam“. QS. Ali Imran: 97.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ كَانَ الْفَضْلُ بْنُ عَبَّاسٍ رَدِيفَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَتْهُ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ تَسْتَفْتِيهِ فَجَعَلَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا وَتَنْظُرُ إِلَيْهِ فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصْرِفُ وَجْهَ الْفَضْلِ إِلَى الشِّقِّ الآخَرِ. قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِى الْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِى شَيْخًا كَبِيرًا لاَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَثْبُتَ عَلَى الرَّاحِلَةِ أَفَأَحُجُّ عَنْهُ قَالَ « نَعَمْ ». وَذَلِكَ فِى حَجَّةِ الْوَدَاعِ.
Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma bercerita: “Pernah Al Fadhl bin Abbas radhiyallahu ‘anhu menjadi teman boncengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu datanglah seorang wanita dari Khats’am, meminta fatwa kepada beliau, (pada saat itu) Al Fadhl melihat kepada wanita tersebut dan wanita tersebut juga melihat kepadanya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menolehkan wajah Al Fadhl ke arah lain, wanita tersebut bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kewajiban Allah atas hambanya dalam perkara haji telah didapati oleh bapakku dalam keadaan sangat tua, tidak sanggup untuk duduk di atas hewan kendaraan, bolehkah aku menghajikannya?”, beliau menjawab: “iya (boleh)”, dan hal itu terjadi pada saat haji Wada’. HR. Bukhari dan Muslim.
Lalu bolehkah orang berhutang untuk menunaikan ibadah haji? Mari lihat jawaban para ulama tentang hal ini:
Imam Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:
” الذي أراه أنه لا يفعل ؛ لأن الإنسان لا يجب عليه الحج إذا كان عليه دَيْن ، فكيف إذا استدان ليحج ؟! فلا أرى أن يستدين للحج ؛ لأن الحج في هذه الحال ليس واجباً عليه ، ولذا ينبغي له أن يقبل رخصة الله وسعة رحمته ، ولا يكلف نفسه دَيْناً لا يدري هل يقضيه أو لا ؟ ربما يموت ولا يقضيه ويبقى في ذمته.
Artinya: “Saya berpendapat bahwa orang tersebut tidak melakukannya (yaitu berhutang untuk menunaikan haji), karena seorang tidak diwajibkan untuk berhaji jika dia mempunyai tanggungan hutang, maka bagaimana jika dia berhutang?! (lebih-lebih lagi), maka saya tidak sependapat jika dia berhutang untuk berhaji, karena haji dalam keadaan ini tidak diwajibkan atasnya, oleh sebab ini semestinya dia menerima keringanan Allah dan keluasan rahmat-Nya, dan tidak membebani dirinya dengan hutang yang dia tidak tahu apakah dia bisa membayarnya atau tidak? Mungkin dia meninggal dan belum membayarnya akhirnya masih tersisa hitang tersebut dalam tanggungannya”. Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 21/93.
Beliau juga berkata:
أشير عليه أن لا يفعل، لأن في الاستدانة إشغال لذمته، ولا يدري هل يتمكن من الوفاء فيما بعد أو لا يتمكن، وإذا كان الحج لا يجب على من كان عليه دين فكيف يستدين الإنسان ليحج؟ وعلى كل حال فإذا كان الرجل ليمس عنده مال يمكن منه الحج فإنه لا حج عليه أصلاً، وإذا مات في هذه الحال لا يعد عاصياً، لأنه لا يجب عليه الحج.
Artinya: “Saya berpendapat agar dia tidak mengerjakannya, karena di dalam berhutang akan menyibukkan jaminan dirinya, dan dia tidak mengetahui apakah mungkin baginya untuk melunasi pada waktu yang akan datang atau tidak mungkin, dan jika haji tidak diwajibkan atas seorang yang masih mempunyai tanggungan hutang, maka bagaimana seseorang berhutang untuk menunaikan haji (lebih lagi)?!, yang jelas, jika seseorang tidak mempunyai harta untuk berhaji, maka pada asal hukumnya tidak wajib baginya (menunaikan haji), dan jika dia meninggal dalam keadaan ini tidak dianggap berdosa, karena tidak wajib atasnya untuk menunaikan haji”. Lihat Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, 21/129.
Berkata Syeikh Al Allamah Shalih Al Fauzan hafizhahullah:
الفقير ليس عليه حج إذا كان لا يستطيع نفقة الحج؛ لقوله تعالى : { وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً } [ سورة آل عمران : آية 97 ] ، ولا يجوز له أن يستدين من أجل أن يحج؛ لأن هذا تكلف لم يأمر الله به، ولأنه يشغل ذمته بالدين من غير داع إلى ذلك؛ فعليه أن ينتظر حتى يغنيه الله من فضله، ويستطيع الحج، ثم يحج .

Artinya: “Seorang miskin tidak wajib atasnya haji, jika tidak mampu dalam bekal haji, berdasarkan Firman Allah Ta’ala:
{ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً }
Artinya: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam“. QS. Ali Imran: 97.
Dan tidak boleh baginya berhutang (untuk berhaji), karena ini adalah pembebanan (diri) yang tidak diperintahkan Allah dengannya dan karena dia sudah menyibukkan dirinya dengan hutang yang tidak ada keperluan kepada hal itu. Maka, wajib atasnya untuk menunggu sampai Allah mengayakan dia dan mampu untuk berhaji lalu baru dia berhaji. Lihat kitab Al Muntaqa Min fatawa Al Fauzan, no. 257.

Beliau juga berkata:
قال الله سبحانه وتعالى : { وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً } [ سورة آل عمران : آية 97 ] ، والسبيل هو الزاد والراحلة، يعني : أن يتوافر له النفقة الكافية في حجه، والنفقة الكافية أيضًا لأولاده ومن يعوله إلى أن يرجع، ولا يجب على من ليس له القدرة المالية حج، ولا يستدين لأجل ذلك؛ لأنه لم يوجب عليه الله سبحانه وتعالى شيئًا وهو مثقل نفسه بالدين ويتكلف لشيء لم يلزمه، والله سبحانه وتعالى يقول : { يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ } [ سورة البقرة : آية 185 ] ، فليس من الشرع أن يستدين الإنسان ليحج، ولكن مادام أنه فعل هذا واستدان وحج، فإن حجته صحيحة ويجب عليه سداد الدين، والله سبحانه وتعالى يوفق الجميع لما فيه الخير والصلاح .
Allah Ta’ala berfirman:
{ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً }
Artinya: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam“. QS. Ali Imran: 97.
Dan mampu adalah bekal dan kendaraan, maksudnya yaitu; terkumpul baginya bekal yang cukup di dalam hajinya, dan bekal yang cukup juga untuk anak-anaknya dan orang yang di bawah tanggungannya sampai dia kembali (dari hajinya). Dan tidak wajib haji atas seorang yang tidak memiliki kemampuan harta, dan tidak boleh dia berhutang untuk itu, karena Allah Ta’ala tidak mewajibkan atasnya sesuatu apapun (dari ibadah haji), dan dia telah memberatkan dirinya dengan hutang dan membebani dirinya dengan sesuatu yang tidak wajib atasnya. Padahal Allah Ta’ala berfirman:
 { يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ }
Artinya: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”. QS. Al Baqarah: 185.
Maka bukan dari perkara yang sesuai syari’at jika seseorang berhutang untuk berhaji, akan tetapi jika ia berhutang dan telah selesai menunaikan haji, maka hajinya sah dan wajibnya atasnya untuk bayar hutang. Semoga Allah Ta’ala memberikan petunjuk kepada seluruh (kita) kepada kebaikan dan keshalihan. Lihat kitab Al Muntaqa Min Fatawa Al Fauzan, no. 223.

Ditulis oleh Ahmad Zainuddin
Sabtu, 3 Dzulqa’dah 1432H Dammam KSA(Kabar Haji)

Bila Tekad Sudah Bulat, Allah SWT Permudah Niatnya Menunaikan Haji

1:01 PM Add Comment
Bila Tekad Sudah Bulat, Allah SWT Permudah Niatnya Menunaikan Haji - Subuh menjelang suatu hari di Tanah Suci Makkah pada 2001. Di depan Ka’bah, jamaah umroh bersimpuh dengan sabar dan berdoa. Semua jamaah menunggu waktu shalat subuh. Tiba-tiba seorang sahabat, seorang direktur keuangan perusahaan bumbu masak asal Jepang dari Surabaya, berbisik. “Saya yakin, insya Allah Pak Mitra balik ke sini untuk berhaji.”


Dia lantas membuka buku doa tawaf, kalau tak salah di putaran ketujuh . “Lihat nih,” tunjuknya. “Ini doa, diijabah Allah.” Artinya, “Ya Allah yang Mahaperkasa, berilah kami rezeki yang halal untuk kembali ke rumah-Mu.” Sebagai Muslim beriman, Mitra percaya doa itu, yang kemudian dia aminkan harapan sahabatnya. Walaupun, menurut pikirannya, masalah dana berhaji plus sungguh mustahil didapatkannya untuk kembali ke Tanah Suci.

Sahabatnya itu selalu mengajaknya beribadah di waktu luang. Makanya, dia pun bisa mengumrahkan almarhum ayah, kakek, dan neneknya. Dengan mengendarai taksi, Mitra dan sahabatnya itu ke miqat di Tan’im atau Ji’rona untuk berihram dan kembali ke Masjidil Haram.

Dengan sesama rekan kameraman TV Nurjaman, dia juga pernah berniat mencium Hajar Aswad. Rupanya, pada pukul 03.00 dini hari, jamaah masih penuh membeludak. Namun, dengan sabar, mereka berhasil menjalankan niatnya.

Mitra Alamsyah berumrah pada Desember 2001, bertepatan Ramadhan 1422 hijriah. Umrah itu diikuti oleh rombongan sembilan kru televisi nasional yang diundang ke Tanah Suci. Biaya umroh saat itu dari biro perjalanan tersebut sangat tinggi menurut ukurannya.

Undangan itu untuk tugas meliput peresmian Hotel Intercontinental Dar El Tawhid. Namun, saat di Jeddah, kamera mereka disita aparat Arab Saudi, kecuali dari rekan televisi swasta. “Kami pun tak bisa meliput. Akhirnya, pengundang menyewa satu kamera yang dipakai bergantian. Bila wawancara, mikrofon yang on ke narasumber hanya satu, tapi yang terlihat ada 10 mikrofon TV Indonesia,” kenangnya.

Saat kembali ke tanah air, mereka terkendala pengambilan kamera yang disimpan para petugas Arab Saudi di kantor pusatnya. Kepulangan pun tertunda. Staf lokal akhirnya membantu untuk negosiasi pengembalian kamera tersebut. Soalnya, sembilan kameramen mengancam tidak akan pulang ke Tanah Air tanpa kamera. Alhamdulillah, katanya, esoknya setelah boarding pass ditunjukkan, pihak berwajib menjanjikan pengembalian kamera. Itu pun baru dilakukan setelah rombongan naik ke pesawat.

Niat untuk berhaji selalu mewarnai hatinya. Dia dan istrinya lalu mendaftarkan diri untuk ke Tanah Suci. Saat menanyakan biayanya ke biro perjalanan haji, dia sungguh kaget. Biaya yang ditawarkan sekitar 8.500 dolar AS. Ada paket Perdana Tour yang nilainya 5.500-8.000 dolar AS.

Karena bertekad haji, dia meminta diskon dan dikabulkan dengan nilai 10 ribu dolar AS untuk berdua. “Uang muka saya bayar 1.000 dolar AS. Sisanya diangsur sampai Desember 2003. Cuma, saya bingung bagaimana melunasi 10 ribu dolar AS, padahal penghasilan waktu itu, ya pas-pasan saja.”

Allah Maha Pemurah - Allah Maha Besar. Rezekinya mengalir seperti tak henti. Dana perjalanan ke daerah dikumpulkannya, juga uang bonus dan tunjangan lain-lain. Ongkos Naik Haji (ONH) lunas pada Oktober 2003. “Saya siap mental ke tanah suci, menjalankan rukun Islam kelima Februari 2004. Akhirnya, setelah tiga tahun dari umrah itu, doa dan harapan sahabat asal Surabaya itu makbul.”

Sebelum berangkat, seorang ustaz memberi tausyiah. “Pak perbarui niatnya ke tanah suci itu untuk apa.” Mendengarnya, dia pun terkesima. Dia mempertanyakan dirinya, apa benar niatnya itu karena Allah atau yang lain. Makanya, dia pun memperbaiki niatnya berhaji.

Adapula iming-iming dari manajemen kantor untuk menanggung ongkos haji bila dia ikut bertugas meliput. Bila dia setuju, uang 5.000 dolar AS bisa dihematnya dan tentu ada uang saku pula. Memang menggiurkan, tapi dia menampik tawaran itu.

Meskipun sebagai wartawan, dia tetap membawa handycam untuk dokumentasi pribadi.
Selama di sana, ada berbagai peristiwa yang mengagetkan. Ada tabrakan masal antarjamaah di area pelemparan jumroh pada 1 Februari 2004 sekitar pukul 11.00 waktu setempat. Arab News menulis, 251 orang tewas terinjak-injak di lantai dua Jamarat. Tabrakan selama 30 menit itu memakan korban, di antaranya 54 jamaah Indonesia, 36 jamaah Pakistan, dan 13 jamaah Mesir.

“Saya abadikan situasi itu dengan handycam. Kejadian itu diliput semua. Bila pengawal mendekat, terpaksa kamera saya sembunyikan di balik baju,” ungkap pensiunan kameraman televisi ini.(Kabar Haji)

Alat Komunikasi Handphone

12:58 PM Add Comment
Alat Komunikasi Handphone - Kebiasaan kebanyakan jamaah asal Indonesia yang tak bisa lepas dari handphone juga bisa menjadi kejadian lucu, terutama bila lupa mematikan atau mengubahnya menjadi mode getar. Bayangkan di tengah keheningan suasana masjidil haram , ketika suara imam masjid terdengar merdu melantunkan ayat suci Al Qur’an saat shalat berjamaah tiba-tiba terdengar suara ring tone handphone lagu dangdut berbunyi nyaring “…goyang dombrettt..ooii..goyang dombreett….”.


Tak terkirakan betapa malunya ketika selesai shalat dan seluruh jamaah di samping kiri kanannya yang berasal dari negara lain memandangnya sambil menahan tawa. Apalagi kalau ada jamaah lain yang juga berasal dari Indonesia. Masih untung hanya tersenyum atau nyengir, kalau mendapat teguran? Olalala..malunyaaa…. Semoga kita ingat untuk selalu mematikan alat komunikasi saat ibadah yah. Aamiin Yaa Rabbal 'aalamiin.
(Kabar Haji)