Daftar Bank Syariah Penerima Tabungan Haji

2:25 PM Add Comment
Daftar Bank Syariah Penerima Tabungan Haji - Mendaftarkan diri untuk mengikuti ibadah haji reguler hanya dapat dilakukan di Kantor Kementrian Agama dan bank Syariah. Perubahan Regulasi dari Kementrian agama menjadikan bank-bank konvensional tidak lagi dapat menerima biaya setoran haji. Hanya bank syariah saja yang diperkenankan menerima setoran biaya haji.



Adapun Beberapa bank syariah yang bisa membuka tabungan haji sebagai berikut.
a. Bank Syariah Mandiri
b. Bank BRI Syariah
c. Bank Permata Syariah
d. Bank BNI SYariah
e. Bank Muamalat
f. Bank Niaga Syariah
g. Bank Mega Syariah
h. Bank-bank Syariah lainnya.

Anda dapat mencari informasi terkait daftar bank penerima setoran haji lainnya. Seperti Bank Panin Syariah Bank Allianz Syariah atau bank lainnya. Semua bank syariah insya Allah memiliki program tabungan haji. Selama bank tersebut telah diizinkan oleh Kementrian Agama untuk menerima setoran Tabungan haji.

Untuk mendaftar ibadah haji, haruslah membuka rekening khusus TABUNGAN HAJI. Biasanya rekening tabungan haji tidak dapat diambil sewaktu-waktu. Setiap bank memiliki ketentuan berbeda tentang rekening ini. Ada bank yang mengharuskan saldo minimal saat pembukaan rekening, Rp. 100.000, ada pula yang Rp. 500.000, dan ada pula yang hanya Rp. 50.000. Kebetulan saya memilihkan orang tua saya di Bank BRI Syariah. Setoran awal ringan hanya Rp. 50.000,- saja.

Baca [ Syarat pendaftaran Ibadah Haji Reguler ]

Berapa besaran  biaya untuk mendaftar haji. Saat ini, biaya mendaftar haji adalah Rp. 25.000.000,- yang harus disetorkan oleh Jamaah haji kepada Rekening Kementrian Agama Republik Indonesia. Ini sesuai dengan ketentuan Menteri Agama sejak tahun 2010. Hingga saat ini (2015) belum ada perubahan tentang biaya setoran awal ini. Sebelum mendaftar, jumlah tersebut harus sudah masuk rekening tabungan Haji yang kita miliki. Jadi, di dalam rekening tabungan yang anda miliki minimal harus terisi Uang sejumlah Dua puluh lima juta rupiah ditambah setoran awal di tiap bank.

Dulu, bank-bank syariah bersaing untuk mendapatkan jamaah haji. Mereka memiliki program talangan haji. Bagi orang yang belum memiliki dana Rp. 25 juta, dapat mengajukan talangan ke bank untuk bisa mendaftarkan ibadah haji. Tapi itu dulu, sekarang kabarnya sudah tidak ada lagi program talangan haji. Tapi, kok beberapa waktu lalu saya melihat ada salah satu bank swasta syariah  yang menawarkan brosur dana talangan haji. Hmm. Entahlah. Hal ini dikarenakan, dana talangan ini berimbas pada panjangnya waiting list/ daftar tunggu jamaah haji. Untuk tahun 2015 ini saja, saat saya mendaftarkan orang tua saya, musti harus menunggu hingga tahun 2035. Padahal usia ayah saya, saat ini  sudah 60 tahun. Masya Allah, harus ekstra sabar. Mudah-mudahan saja, daftar tunggunya dapat maju kencang... hmm.

Demikian informasi dari saya tentang Bank Penerima Tabungan Ibadah Haji. Anda dapat mencari informasi lebih lanjut dengan mengunjungi bank syariah pilihan anda. Semoga bermanfaat.
(Kabar Haji)

Syarat Pendaftaran Haji Reguler

2:22 PM Add Comment
Syarat Pendaftaran Haji Reguler - Ibadah haji merupakan rukun Islam yang ke-5. Melaksanakan ibadah haji adalah ibadah yang sangat mulia. Umat Islam banyak yang ingin mendaftarkan diri untuk melaksanakan ibadah haji di tanah suci. Baik yang belum melaksanakan maupun yang sudah menjalankannya. Semua berkeinginan untuk melaksanakan ibadah yang mulia ini.

Apakah anda juga ingin mendaftarkan ibadah haji? Sudahkah anda mengetahui syarat-syarat pendaftaran ibadah haji? Belum lama ini, saya mengantarkan orang tua untuk mendaftarkan ibadah haji jalur reguler.


Berikut akan saya tuliskan pengalaman pribadi tentang langkah-langkah pendaftaran ibadah haji.

1. Buka tabungan haji terlebih dahulu di Bank Syariah. 

Nah, ini langkah pertama mendaftarkan haji. Kita harus membuka tabungan haji terlebih dahulu. Menurut informasi yang saya ketahui, saat ini, seluruh bank syariah di Indonesia bisa digunakan untuk membuka tabungan haji. Anda baiknya mencari bank syariah terdekat di daerah tempat tinggal anda. Atau bisa juga bank terdekat dengan kantor kemenag di kabupaten/kota tempat anda tinggal.

Silakan anda mendatangi bank syariah yang dekat dengan domisili anda. Tanyakan pada costomer service tentang tabungan Haji. Semua bank syariah memiliki Tabungan Haji. Setahu saya, bank-bank syariah telah ditunjuk oleh Kementerian Agama untuk menerima biaya setoran haji.

Baca [ Daftar Bank Syariah Penerima Setoran Biaya Haji ]

2. Dapatkan Surat Keterangan Sehat dari Puskesmas Kecamatan

Langkah kedua, silakan datang ke Puskesmas di kecamatan setempat di tempat tinggal anda. Kebetulan di kecamatan tempat saya tingal, ada 2 puskesmas. Saya biasa berada di puskesmas ke-2, namun saat saya hendak mencari KIR haji di puskesmas ini, saya ditolak. Saya diharuskan ke puskesmas induk, karena di sanalah yang bisa mengeluarkan surat KIR haji.

Awalnya saya ragu untuk mencari surat keterangan sehat di puskesmas. Lantaran ada pengalaman seorang pendaftar haji yang tidak memerlukan surat sehat dari puskesmas saat ia mendaftar ibadah haji. Pengalaman ini ia ceritakan di blognya. Silakan dibaca, tapi, saya lupa linknya. .. hehe.

Hal ini sesuai dengan peraturan menteri Agama yang terbaru No 29 tahun 2015, bahwa tidak ada syarat harus mencari surat keterangan sehat untuk pendaftar calon jamaah haji. Namun, rupanya belum semua wilayah melaksanakan ketentuan tersebut. Saya sendiri tidak tahu, apakah memang belum diberlakukan ataukah hanya untuk wilayah tertentu saja. Contohnya di kabupaten tempat saya tinggal. Masih menggunakan syarat lama datang yakni diperlukan surat keterangan sehat dari puskesmas.

Untung saja, saya telepon dulu ke Kantor Kementrian Agama Kabupaten Sukoharjo 0271 59314X dengan ekstension 105. Jadi, ada kepastian bahwa surat kesehatan diperlukan berikut syarat-syarat lainnya seperti foto 3 x 4 sebanyak 5 lembar dan 4 x 6 sebanyak 1 lembar.

3. Mendaftar di Kantor Kementrian Agama Kapubaten/Kota

Setelah melengkapi persyaratannya seperti Fotokopi tabungan haji, Fotokopi KK, Fotokopi Surat Nikah atau ijazah, Surat Kesehatan dan pas photo, langkah selanjutnya adalah mendaftar ke kantor Kementrian Agama kabupaten/kota setempat. Tanyakan saja ke seksi urusan haji.

Menariknya, sesampai di kantor Kemenag bagian pendaftaran haji, rasanya adem. Hehe, ruanganya meski sempit, namun begitu nyaman. Maklum, perjalan dari rumah hingga ke pusat kota sangat panas. apalagi di tengah suasana panas terik. Belum lagi terhalang proyek pengaspalan jalan. Macet plus panas terik begitu menyengat. Tapi semua itu terbayar saat berada di ruang pendaftaran calon haji. Di sana ruang itu dilengkap dengan AC yang membuat suasana sejuk.

Selain itu, juga terpampang hiasan dinding berupa Foto Ka'bah di Mekah dan Masjid Nabawi Madinah. Tak hanya itu, ada pula televisi layar datar yang menayangkan suasana Umrah secara live. Hmm, bener-bener deh. Rasanya begitu dekat dengan Baitullah. Labbaik, Allahumma Labbaik. Meski di rumah sering pantengin Masjidil Haram, namun suasanya jadi berbeda dengan saat mau mendaftarkan haji.

Ah, itu sih suasana di Kantor Kemenag di Kabupaten tempat saya tinggal. Saya tidak tahu bagaimana di tempat anda? Kemungkinan juga memiliki suasana yang dibuat sama. Hehe, kok jadi begini ya. Lanjut...

Sesampainya di sana saya diberikan formulir pendaftaran untuk diisi sesuai dengan data calon jamaah. Sementara persyaratan yang dibawa selain pas photo diminta oleh petugas untuk dilakukan proses pendaftaran. Foto yang disiapkan itu tidak diminta oleh Kemenag, ternyata digunakan saat melakukan proses switching di Bank penerima setoran biaya haji.

Setelah semua selesai, selembar SPPH (Surat Perintah Perjalan Haji) pun diberikan. SPPH inilah yang akan dibawa ke Bank untuk dilakukan proses switching.

4. Lakukan switching rekening tabungan haji di bank syariah

Langkah selanjutnya adalah kembali ke Bank Syariah tempat membuka tabungan Haji. SPPH dari kemenag diserahkan surat tersebut kepada pihak bank. Proses ini bisa anda lakukan hari itu juga. Namun saya melakukannya pada keesokan hari. Lantaran waktu sudah sore. Bank pun juga sudah tutup. Terlebih harus melewati lagi kemacetan jalan.

Pihak bank yang akan membantu dalam proses switching rekening tabungan haji kita. Di sana kita akan dimita foto 3 x 4, materai atau biaya pengganti materai, dan formulir pengiriman uang. Bank akan mentransfer biaya setoran awal  ibadah haji ke rekening Menteri Agama. Nomor rekening Kemenag pun menggunakan nomor unik. Kalau tidak salah angka 7 berapa kali gitu. Pokoknya angka 7 semua. Selanjutnya, kita tinggal menunggu proses pembayaran yang dilakukan oleh Bank.

Tada... pembayaran pun selesai. Kita tinggal teken oret-oret tanda tangan pada Bukti setoran.. beres deh. Nomor porsi pun berhasil kita dapatkan. Saya pun mendapatkan beberapa lembar bukti setoran asli dan duplikat yang sudah ditempel foto 3 x 4 dari calon jamaah. Bukti setoran inilah yang asli disimpan, dan duplikatnya diserahkan kembali kepada kantor Kementrian Agama.

5. Serahkan dokumen setoran BPIH ke kemenag Kabupaten 

Nah, anda sudah berada pada langkah terakhir. Langkah ini cukup mudah. tinggal menyerahkan bukti setoran kepada Kantor Kementrian Agama Kabupaten/kota tempat kita mendaftar tadi. Biasanya pihak bank menyampaikan bahwa waktu pengembalian setoran ini maksimal adalah 1 minggu. Oleh karena itu agar tidak lupa, disegerakan saja pengembalian dokumen formulir setoran BPIH ini. Agar kita segera plong, dalam melakukan proses pendaftaran ini. Setelah sampai ke kantor kemenag, anda akan diminta menuliskan nama jamaah pada buku/daftar pengembalian setoran BPIH, sebagai bukti bahwa setoran BPIH telah kita sampaikan.

Alhamdulillah. Kita telah berhasil mendaftarkan diri sebagai calon jamaah Haji Reguler. Tinggal menunggu proses selanjutnya. Tergantung berapa lama waiting list dari daftar tersebut. Saat ini saja, waiting list untuk Jawa Tengah sudah mencapai 20 tahun. Bayangkan, orang tua saya sudah berusia 60 tahun, masih harus menunggu 20 tahun lagi.. Masya Allah. Musti harus bersabar(Kabar Haji)

Hukum Berhutang untuk Haji

1:03 PM Add Comment
Hukum Berhutang untuk Haji
Pertanyaan: Apa hukumnya berhutang untuk menunaikan haji?



Jawaban:

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

Sudah kita ketahui bahwa salah satu syarat wajibnya haji adalah mampu, baik mampu harta sebagai bekal menunaikan ibadah haji dan mampu badan untuk menunaikan haji. Hal ini berdasarkan dalil di bawah ini:
{وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ}
Artinya: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam“. QS. Ali Imran: 97.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ كَانَ الْفَضْلُ بْنُ عَبَّاسٍ رَدِيفَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَتْهُ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ تَسْتَفْتِيهِ فَجَعَلَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا وَتَنْظُرُ إِلَيْهِ فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصْرِفُ وَجْهَ الْفَضْلِ إِلَى الشِّقِّ الآخَرِ. قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِى الْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِى شَيْخًا كَبِيرًا لاَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَثْبُتَ عَلَى الرَّاحِلَةِ أَفَأَحُجُّ عَنْهُ قَالَ « نَعَمْ ». وَذَلِكَ فِى حَجَّةِ الْوَدَاعِ.
Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma bercerita: “Pernah Al Fadhl bin Abbas radhiyallahu ‘anhu menjadi teman boncengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu datanglah seorang wanita dari Khats’am, meminta fatwa kepada beliau, (pada saat itu) Al Fadhl melihat kepada wanita tersebut dan wanita tersebut juga melihat kepadanya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menolehkan wajah Al Fadhl ke arah lain, wanita tersebut bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kewajiban Allah atas hambanya dalam perkara haji telah didapati oleh bapakku dalam keadaan sangat tua, tidak sanggup untuk duduk di atas hewan kendaraan, bolehkah aku menghajikannya?”, beliau menjawab: “iya (boleh)”, dan hal itu terjadi pada saat haji Wada’. HR. Bukhari dan Muslim.
Lalu bolehkah orang berhutang untuk menunaikan ibadah haji? Mari lihat jawaban para ulama tentang hal ini:
Imam Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:
” الذي أراه أنه لا يفعل ؛ لأن الإنسان لا يجب عليه الحج إذا كان عليه دَيْن ، فكيف إذا استدان ليحج ؟! فلا أرى أن يستدين للحج ؛ لأن الحج في هذه الحال ليس واجباً عليه ، ولذا ينبغي له أن يقبل رخصة الله وسعة رحمته ، ولا يكلف نفسه دَيْناً لا يدري هل يقضيه أو لا ؟ ربما يموت ولا يقضيه ويبقى في ذمته.
Artinya: “Saya berpendapat bahwa orang tersebut tidak melakukannya (yaitu berhutang untuk menunaikan haji), karena seorang tidak diwajibkan untuk berhaji jika dia mempunyai tanggungan hutang, maka bagaimana jika dia berhutang?! (lebih-lebih lagi), maka saya tidak sependapat jika dia berhutang untuk berhaji, karena haji dalam keadaan ini tidak diwajibkan atasnya, oleh sebab ini semestinya dia menerima keringanan Allah dan keluasan rahmat-Nya, dan tidak membebani dirinya dengan hutang yang dia tidak tahu apakah dia bisa membayarnya atau tidak? Mungkin dia meninggal dan belum membayarnya akhirnya masih tersisa hitang tersebut dalam tanggungannya”. Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 21/93.
Beliau juga berkata:
أشير عليه أن لا يفعل، لأن في الاستدانة إشغال لذمته، ولا يدري هل يتمكن من الوفاء فيما بعد أو لا يتمكن، وإذا كان الحج لا يجب على من كان عليه دين فكيف يستدين الإنسان ليحج؟ وعلى كل حال فإذا كان الرجل ليمس عنده مال يمكن منه الحج فإنه لا حج عليه أصلاً، وإذا مات في هذه الحال لا يعد عاصياً، لأنه لا يجب عليه الحج.
Artinya: “Saya berpendapat agar dia tidak mengerjakannya, karena di dalam berhutang akan menyibukkan jaminan dirinya, dan dia tidak mengetahui apakah mungkin baginya untuk melunasi pada waktu yang akan datang atau tidak mungkin, dan jika haji tidak diwajibkan atas seorang yang masih mempunyai tanggungan hutang, maka bagaimana seseorang berhutang untuk menunaikan haji (lebih lagi)?!, yang jelas, jika seseorang tidak mempunyai harta untuk berhaji, maka pada asal hukumnya tidak wajib baginya (menunaikan haji), dan jika dia meninggal dalam keadaan ini tidak dianggap berdosa, karena tidak wajib atasnya untuk menunaikan haji”. Lihat Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, 21/129.
Berkata Syeikh Al Allamah Shalih Al Fauzan hafizhahullah:
الفقير ليس عليه حج إذا كان لا يستطيع نفقة الحج؛ لقوله تعالى : { وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً } [ سورة آل عمران : آية 97 ] ، ولا يجوز له أن يستدين من أجل أن يحج؛ لأن هذا تكلف لم يأمر الله به، ولأنه يشغل ذمته بالدين من غير داع إلى ذلك؛ فعليه أن ينتظر حتى يغنيه الله من فضله، ويستطيع الحج، ثم يحج .

Artinya: “Seorang miskin tidak wajib atasnya haji, jika tidak mampu dalam bekal haji, berdasarkan Firman Allah Ta’ala:
{ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً }
Artinya: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam“. QS. Ali Imran: 97.
Dan tidak boleh baginya berhutang (untuk berhaji), karena ini adalah pembebanan (diri) yang tidak diperintahkan Allah dengannya dan karena dia sudah menyibukkan dirinya dengan hutang yang tidak ada keperluan kepada hal itu. Maka, wajib atasnya untuk menunggu sampai Allah mengayakan dia dan mampu untuk berhaji lalu baru dia berhaji. Lihat kitab Al Muntaqa Min fatawa Al Fauzan, no. 257.

Beliau juga berkata:
قال الله سبحانه وتعالى : { وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً } [ سورة آل عمران : آية 97 ] ، والسبيل هو الزاد والراحلة، يعني : أن يتوافر له النفقة الكافية في حجه، والنفقة الكافية أيضًا لأولاده ومن يعوله إلى أن يرجع، ولا يجب على من ليس له القدرة المالية حج، ولا يستدين لأجل ذلك؛ لأنه لم يوجب عليه الله سبحانه وتعالى شيئًا وهو مثقل نفسه بالدين ويتكلف لشيء لم يلزمه، والله سبحانه وتعالى يقول : { يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ } [ سورة البقرة : آية 185 ] ، فليس من الشرع أن يستدين الإنسان ليحج، ولكن مادام أنه فعل هذا واستدان وحج، فإن حجته صحيحة ويجب عليه سداد الدين، والله سبحانه وتعالى يوفق الجميع لما فيه الخير والصلاح .
Allah Ta’ala berfirman:
{ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً }
Artinya: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam“. QS. Ali Imran: 97.
Dan mampu adalah bekal dan kendaraan, maksudnya yaitu; terkumpul baginya bekal yang cukup di dalam hajinya, dan bekal yang cukup juga untuk anak-anaknya dan orang yang di bawah tanggungannya sampai dia kembali (dari hajinya). Dan tidak wajib haji atas seorang yang tidak memiliki kemampuan harta, dan tidak boleh dia berhutang untuk itu, karena Allah Ta’ala tidak mewajibkan atasnya sesuatu apapun (dari ibadah haji), dan dia telah memberatkan dirinya dengan hutang dan membebani dirinya dengan sesuatu yang tidak wajib atasnya. Padahal Allah Ta’ala berfirman:
 { يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ }
Artinya: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”. QS. Al Baqarah: 185.
Maka bukan dari perkara yang sesuai syari’at jika seseorang berhutang untuk berhaji, akan tetapi jika ia berhutang dan telah selesai menunaikan haji, maka hajinya sah dan wajibnya atasnya untuk bayar hutang. Semoga Allah Ta’ala memberikan petunjuk kepada seluruh (kita) kepada kebaikan dan keshalihan. Lihat kitab Al Muntaqa Min Fatawa Al Fauzan, no. 223.

Ditulis oleh Ahmad Zainuddin
Sabtu, 3 Dzulqa’dah 1432H Dammam KSA(Kabar Haji)

Bila Tekad Sudah Bulat, Allah SWT Permudah Niatnya Menunaikan Haji

1:01 PM Add Comment
Bila Tekad Sudah Bulat, Allah SWT Permudah Niatnya Menunaikan Haji - Subuh menjelang suatu hari di Tanah Suci Makkah pada 2001. Di depan Ka’bah, jamaah umroh bersimpuh dengan sabar dan berdoa. Semua jamaah menunggu waktu shalat subuh. Tiba-tiba seorang sahabat, seorang direktur keuangan perusahaan bumbu masak asal Jepang dari Surabaya, berbisik. “Saya yakin, insya Allah Pak Mitra balik ke sini untuk berhaji.”


Dia lantas membuka buku doa tawaf, kalau tak salah di putaran ketujuh . “Lihat nih,” tunjuknya. “Ini doa, diijabah Allah.” Artinya, “Ya Allah yang Mahaperkasa, berilah kami rezeki yang halal untuk kembali ke rumah-Mu.” Sebagai Muslim beriman, Mitra percaya doa itu, yang kemudian dia aminkan harapan sahabatnya. Walaupun, menurut pikirannya, masalah dana berhaji plus sungguh mustahil didapatkannya untuk kembali ke Tanah Suci.

Sahabatnya itu selalu mengajaknya beribadah di waktu luang. Makanya, dia pun bisa mengumrahkan almarhum ayah, kakek, dan neneknya. Dengan mengendarai taksi, Mitra dan sahabatnya itu ke miqat di Tan’im atau Ji’rona untuk berihram dan kembali ke Masjidil Haram.

Dengan sesama rekan kameraman TV Nurjaman, dia juga pernah berniat mencium Hajar Aswad. Rupanya, pada pukul 03.00 dini hari, jamaah masih penuh membeludak. Namun, dengan sabar, mereka berhasil menjalankan niatnya.

Mitra Alamsyah berumrah pada Desember 2001, bertepatan Ramadhan 1422 hijriah. Umrah itu diikuti oleh rombongan sembilan kru televisi nasional yang diundang ke Tanah Suci. Biaya umroh saat itu dari biro perjalanan tersebut sangat tinggi menurut ukurannya.

Undangan itu untuk tugas meliput peresmian Hotel Intercontinental Dar El Tawhid. Namun, saat di Jeddah, kamera mereka disita aparat Arab Saudi, kecuali dari rekan televisi swasta. “Kami pun tak bisa meliput. Akhirnya, pengundang menyewa satu kamera yang dipakai bergantian. Bila wawancara, mikrofon yang on ke narasumber hanya satu, tapi yang terlihat ada 10 mikrofon TV Indonesia,” kenangnya.

Saat kembali ke tanah air, mereka terkendala pengambilan kamera yang disimpan para petugas Arab Saudi di kantor pusatnya. Kepulangan pun tertunda. Staf lokal akhirnya membantu untuk negosiasi pengembalian kamera tersebut. Soalnya, sembilan kameramen mengancam tidak akan pulang ke Tanah Air tanpa kamera. Alhamdulillah, katanya, esoknya setelah boarding pass ditunjukkan, pihak berwajib menjanjikan pengembalian kamera. Itu pun baru dilakukan setelah rombongan naik ke pesawat.

Niat untuk berhaji selalu mewarnai hatinya. Dia dan istrinya lalu mendaftarkan diri untuk ke Tanah Suci. Saat menanyakan biayanya ke biro perjalanan haji, dia sungguh kaget. Biaya yang ditawarkan sekitar 8.500 dolar AS. Ada paket Perdana Tour yang nilainya 5.500-8.000 dolar AS.

Karena bertekad haji, dia meminta diskon dan dikabulkan dengan nilai 10 ribu dolar AS untuk berdua. “Uang muka saya bayar 1.000 dolar AS. Sisanya diangsur sampai Desember 2003. Cuma, saya bingung bagaimana melunasi 10 ribu dolar AS, padahal penghasilan waktu itu, ya pas-pasan saja.”

Allah Maha Pemurah - Allah Maha Besar. Rezekinya mengalir seperti tak henti. Dana perjalanan ke daerah dikumpulkannya, juga uang bonus dan tunjangan lain-lain. Ongkos Naik Haji (ONH) lunas pada Oktober 2003. “Saya siap mental ke tanah suci, menjalankan rukun Islam kelima Februari 2004. Akhirnya, setelah tiga tahun dari umrah itu, doa dan harapan sahabat asal Surabaya itu makbul.”

Sebelum berangkat, seorang ustaz memberi tausyiah. “Pak perbarui niatnya ke tanah suci itu untuk apa.” Mendengarnya, dia pun terkesima. Dia mempertanyakan dirinya, apa benar niatnya itu karena Allah atau yang lain. Makanya, dia pun memperbaiki niatnya berhaji.

Adapula iming-iming dari manajemen kantor untuk menanggung ongkos haji bila dia ikut bertugas meliput. Bila dia setuju, uang 5.000 dolar AS bisa dihematnya dan tentu ada uang saku pula. Memang menggiurkan, tapi dia menampik tawaran itu.

Meskipun sebagai wartawan, dia tetap membawa handycam untuk dokumentasi pribadi.
Selama di sana, ada berbagai peristiwa yang mengagetkan. Ada tabrakan masal antarjamaah di area pelemparan jumroh pada 1 Februari 2004 sekitar pukul 11.00 waktu setempat. Arab News menulis, 251 orang tewas terinjak-injak di lantai dua Jamarat. Tabrakan selama 30 menit itu memakan korban, di antaranya 54 jamaah Indonesia, 36 jamaah Pakistan, dan 13 jamaah Mesir.

“Saya abadikan situasi itu dengan handycam. Kejadian itu diliput semua. Bila pengawal mendekat, terpaksa kamera saya sembunyikan di balik baju,” ungkap pensiunan kameraman televisi ini.(Kabar Haji)

Alat Komunikasi Handphone

12:58 PM Add Comment
Alat Komunikasi Handphone - Kebiasaan kebanyakan jamaah asal Indonesia yang tak bisa lepas dari handphone juga bisa menjadi kejadian lucu, terutama bila lupa mematikan atau mengubahnya menjadi mode getar. Bayangkan di tengah keheningan suasana masjidil haram , ketika suara imam masjid terdengar merdu melantunkan ayat suci Al Qur’an saat shalat berjamaah tiba-tiba terdengar suara ring tone handphone lagu dangdut berbunyi nyaring “…goyang dombrettt..ooii..goyang dombreett….”.


Tak terkirakan betapa malunya ketika selesai shalat dan seluruh jamaah di samping kiri kanannya yang berasal dari negara lain memandangnya sambil menahan tawa. Apalagi kalau ada jamaah lain yang juga berasal dari Indonesia. Masih untung hanya tersenyum atau nyengir, kalau mendapat teguran? Olalala..malunyaaa…. Semoga kita ingat untuk selalu mematikan alat komunikasi saat ibadah yah. Aamiin Yaa Rabbal 'aalamiin.
(Kabar Haji)

Hindari Prilaku Takabur di Tanah Suci

12:53 PM Add Comment
Hindari Prilaku Takabur di Tanah Suci - Bahwa pergi menunaikan ibadah haji ketanah suci adalah sesuatu yang sakral, itu tak dapat saya pungkiri. Jadi wajar saja kalau kadang orang lalu menghubungkannya dengan sesuatu yang (kadang) diluar nalar atau akal sehat.

Agar supaya anda tidak penasaran, kisah atau cerita seru dan seram seperti apa yang pernah dialami oleh para jamaah atau haji, berikut ini kisah-kisahnya. Semoga tidak membuat anda kecil hati dan ciut nyali untuk melaksanakan ibadah umrah atau haji.


Jamaah yang tersesat adalah hal yang sangat sering terjadi pada jamaah haji Indonesia. Petugas Daker (Daerah Kerja) di Makkah dan Medinah selalu dibuat pusing dengan jumlah jamaah yang tersesat. Dari tahun ketahun, jumlahnya malah terus bertambah seiring dengan makin banyaknya jumlah jamaah haji dari tanah air. “Tetapi rekor jumlah jamaah yang tersesat masih tetap terbanyak di Daker Makkah” jelas abah yusuf yang sudah tiga kali ke tanah suci.

Masjidil Haram yang mempunyai banyak sekali pintu dan situasi jalan di kota Makkah al-Mukaromah selalu padat adalah salah satu faktor yang membuat jamaah kehilangan atau lupa arah kembali ke tempat penampungan atau asrama. Terutama sangat sering menimpa jamaah yang sudah lanjut usia dan yang buta aksara latin maupun arab.

Gabungan dari keduanya (tua dan buta aksara) bisa menjadi sangat rawan apabila yang bersangkutan terlepas dari rombongannya. Itu sebabnya jamaah haji Indonesia selain diberi jaket seragam juga diberi semacam gelang pengenal bertulisan jati diri memakai huruf latin dan Arab, agar mudah dikenali jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap jamaah yang bersangkutan.

Akan tetapi ada faktor lain yang barangkali dapat disebut sebagai “tergantung amal ibadah” yang sering jadi bahan olok-olok sesama jamaah itu. Kepercayaan diri yang terlalu besar (over confident), adalah suatu hal yang acapkali terjadi. Merasa sudah sangat sering datang ke tanah suci, merasa hafal jalanan di kota Makkah, akhirnya seperti mendapat balasan langsung dari Allah SWT: menjadikan seseorang disorientasi, lupa ingatan dan tersesat.

Ini bukan cerita isapan jempol. Ada seorang jamaah haji yang telah bahkan cukup sering ke tanah suci Makkah, ia merasa telah banyak tahu, namun pada saat itu pula ia seakan di ingatkan oleh Allah SWT tentang kesalahannya dengan berjalan berputar-putar ditempatnya, dari waktu sholat Isya berjamaah sampai hari terang benderang, ia tidak dapat menemukan meeting point, titik pertemuan yang sudah kita sepakati bersama, yaitu lampu neon hijau yang digunakan sebagai tanda awal dimulainya ibadah tawaf.

Dari lima orang yang membuat janji pertemuan dibawah lampu neon itu, hanya empat orang yang dapat berkumpul, sedangkan yang seorang lagi (orang yang sering ke tanah suci yang tidak perlu saya sebut namanya) tidak kunjung tiba walau sudah ditunggu sampai sholat Subuh selesai. Mau tidak mau harus kita tinggal pulang kembali kepondokan karena sudah waktunya untuk bersih diri dan makan pagi.
“Tanpa diduga dalam kondisi kuyuh dan pakaian lusuh, beliau muncul diruang makan sambil marah-marah meskipun dengan nada canda” jelasnya pada media.ikhram.com. “Katanya teman-teman tidak setia karena tidak mau menunggunya” tambah abah yusuf sambil tertawa. Ia bahkan kesulitan mencari tempat yang sudah disepakati sehingga menjadi tersesat tak dapat menemukan jalan untuk pulang ke pemondokan. Pada akhirnya beliau bertemu petugas dari Daker Makkah yang menunjukkannya “jalan yang lurus dan benar” cubil abahYusuf pada temannya itu.(Kabar Haji)

Ustadz Mawardi Mendadak Haji

12:51 PM Add Comment
Ustadz Mawardi Mendadak Haji - ”Ustadz ini seperti orang sinting saja,” kata Camat Wonosari Camat Lukman Amu SPd, MM, menanggapi permintaan Ustadz Mawardi. Bagaimana tidak. Senin kemarin mereka duduk bersama di Kantor Kecamatan tanpa bicara soal naik haji sama sekali. Tiba-tiba Selasa esok harinya Ustadz datang lagi ke Kecamatan, mau pinjam uang untuk ongkos naik pesawat ke Jakarta karena akan berangkat haji. Cerita apa ini, kayak Kisah 1001 Malam saja. ”Ustadz ini seharusnya pergi saja ke Rumah Sakit Jiwa,” ucap Pak Camat kesal.



Mawardi Yusuf hanya mampu menghela nafas. Jangankan Pak Camat, keluarganya sendiri pun tak ada yang percaya dia akan naik haji, kecuali sang istri. Demikian pula warga Desa Dimito, hanya tertawa mendengar cerita Ustadz mau naik haji. ”Ustadz Mawardi itu kerja di mana, gajinya berapa, kok tiba-tiba mampu naik haji. Dia kan kerjanya hanya dakwah,” celoteh seorang tetangganya.

Kabar gembira itu memang begitu mendadak. Senin malam sepulang menemui Pak Camat, Ustadz Mawardi ditelepon dari Kantor Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia di Jakarta. ”Ustadz, antum berangkat haji tahun ini. Segera siap-siap, dan harus sudah tiba di Jakarta dalam pekan ini,” begitu pesan dari induk organisasinya.

Tentu saja Mawardi terperangah mendengar kabar tanpa ba-bi-bu itu. Dia sampai tiga kali mengonfirmasi berita tersebut hingga haqqul yaqin.

Setelah pontang-panting kesana-kemari, akhirnya Ustadz Mawardi mendapat pinjaman ongkos dari seorang saudara istrinya di Kota Boalemo. Diapun mengantongi tiket pesawat ke Jakarta. Petang sebelum berangkat ke Bandara Djalaluddin, Ustadz Mawardi dan istrinya, Maryam Pakaya, mengundang para tetangga untuk walimatus safar haji. Tetangga memang berdatangan. Tapi, bukan untuk mendoakan keberangkatannya, melainkan mencemooh. Mereka pun ogah masuk rumah Ustadz untuk menikmati sajian syukuran kecil.

Malam itu juga, dengan hanya ditemani istri dan Idris anaknya, Ustadz Mawardi pergi ke kota yang jaraknya sekitar 55 km dari Dimito. Esoknya, Ustadz akan terbang ke Jakarta dengan pesawat paling pagi.

Sepekan kemudian, nomor telepon asing berawalan +966 menderingkan ponsel Camat Wonosari, Kab Boalemo, Gorontalo.

”Siapa ini?” tanya Lukman Amu.

Ustadz Mawardi! Ternyata Sang Ustadz pembina Wonosari itu yang menelepon dari Masjidil Haram di Makkah.

”Masya Allah, jadi benar rupanya Ustadz naik haji,” Lukman Amu terperangah. Tiba-tiba ia merasa sangat menyesal telah mengingkari Ustadz. Ternyata Sang Ustadz bukan saja naik haji, melainkan berhaji dengan ONH Plus!

Maka, tergopoh-gopoh Camat Wonosari lalu ngebut ke Desa Dimito. Sesampainya di sana, ia berseru lewat pengeras suara Masjid Darul Falah: ”… Ustadz Mawardi Yusuf memang sedang menunaikan ibadah haji, tadi beliau menelepon saya langsung dari Makkah….”

Tak hanya itu. Ketika dua pekan kemudian Ustadz Mawardi pulang haji, Lukman Amu menyambutnya dengan pesta syukuran di rumah Ustadz. Seluruh biaya dia yang bayar. ”Masya Allah Ustadz, maafkan saya. Kalau tahu begini, waktu itu pasti saya akan kasih uang Ustadz, bukan hanya meminjamkan,” ucap Camat Wonosari sambil memeluk hangat Ustadz Haji Mawardi.

Pelukan Pak Natsir Mawardi N Yusuf, termasuk da’i generasi tahun 1990-an yang dikirim Dewan Da’wah ke pedalaman Nusantara. Sebelum bertugas, ia bersama puluhan da’i muda lainnya digembleng di Pesantren Pertanian Darul Fallah, Ciampea, Bogor.

DR Mohammad Natsir, salah satu mentor mereka. Sebelum melepas para da’i, Pak Natsir menyalami dan memeluk mereka satu persatu. Wasiat da’wah pun dibisikkan mantan Perdana Menteri RI yang juga pendiri Dewan Da’wah itu.

Kelak, taushiyah dan pelukan Pak Natsir, menjadi kenangan sekaligus energi besar bagi para da’i. ”Kalaulah bukan karena amanat dakwah yang diwasiatkan Pak Natsir, da’i Dewan Da’wah tidak akan tahan hidup di pedalaman,” ucap Mawardi Yusuf.

Ketika diterjunkan ke Wonosari yang waktu itu masih bagian dari kecamatan Paguyaman, Ustadz Mawardi seperti berdakwah di ”Indonesia Kecil”. Di daerah transmigrasi tersebut, berdatangan keluarga-keluarga trans dari berbagai suku di Tanah Air; Lombok, Bali, Madura, Jawa, Minahasa, Makasar, dan lain-lain.

Di tengah hutan yang baru dibuka sebagai pemukiman itulah, Mawardi harus berjuang untuk eksis sekaligus menerangi kehidupan kaum transmigran.

Beruntung dia mendapat jodoh Maryam Pakaya, gadis Kota Gorontalo yang mau diajak hidup di tengah hutan. Selain pintar memasak, Maryam juga gesit berkebun dan beternak. Mereka punya sepetak lahan kacang tanah dan seekor sapi, yang ditangani Maryam.

Perempuan ini juga membuka PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) ”Rinjani” di rumahnya. Dia mengajar di situ bersama sejumlah guru lain. Muridnya sekitar 40-an.

Salah satu tantangan dakwah Ustadz Mawardi adalah adat-istiadat yang tidak Islami. Misalnya budaya sunat yang hanya menggores sedikit alat vital bocah lelaki muslim, bukan memotong ujung ”kulup burung” sebagaimana seharusnya. Kalau goresan itu sudah sembuh, si bocah boleh bersunat lagi disertai pesta tiga hari. Begitu seterusnya, sehingga seorang anak dapat bersunat lebih dari dua kali.

Budaya lain adalah feodalisme. Seluruh pengunjung sebuah hajatan tidak boleh bubar dulu, sebelum pejabat desa atau kecamatan apalagi kabupaten, datang. Padahal, para pejabat itu biasa datang sangat terlambat. Selain jalanan yang jauh dan rusak, mereka juga punya bermacam dalih untuk telat.

”Waktu dakwah saya bisa habis hanya untuk menunggu kehadiran pejabat,” keluh Mawardi, yang melayani umat di 14 desa di Kecamatan Wonosari.

”Saya semakin tua, stamina kian lemah. Saya kurus bukan karena kurang makan, tapi terlalu banyak kena angin malam,” ujar Ustadz yang berkendara motor untuk dakwah.

Dalam sehari, ia biasanya melayani undangan dakwah di 3 tempat berbeda. Bukan kemacetan yang jadi kendala menuju lokasi, tapi jarak yang jauh dan kondisi sekujur jalan yang berkubang. Seringkali Ustadz harus menginap di tengah jalan, bila jalan malam dan motor rusak atau turun hujan.

Untuk meneruskan dakwahnya kelak, Ustadz Mawardi menyekolahkan anak sulungnya, Usman Yusuf Mawardi, ke Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Gorontalo. ”Alhamdulillah, Usman mendapat beasiswa di sini, tadinya mau saya masukkan ke Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah M Natsir di Jakarta,” ungkap Ustadz.

Mohammad Idris, anak kedua yang masih duduk di kelas 6 SD, juga sudah digadang-gadang agar kelak jadi da’i. ”Saya ingin Idris masuk Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah M Natsir,” harap Ustadz Mawardi.

Dia pun mengundang da’i baru untuk menemaninya di Wonosari. ”Tolong beri saya teman satu da’i lagi. Insya Allah saya sediakan rumah saya untuk ditempati, tanah untuk digarap, dan gadis tercantik untuk diperjodoh,” katanya penuh asa. (humas LAZIS Dewan Da’wah)(Kabar Haji)

Kisah Haji Abdullah bin al-Mubarak RA

12:50 PM Add Comment
Kisah Haji Abdullah bin al-Mubarak RA - Abdullah bin al-Mubarak hidup di Mekkah. Pada suatu waktu, setelah menyelesaikan ritual ibadah haji, dia tertidur dan bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit.



“Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya.

“600.000,” jawab malaikat lainnya.

“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?”

“Tidak satupun”

Percakapan ini membuat Abdullah gemetar. “Apa?” aku menangis. “Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasing yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”

“Ada seorang tukang sepatu di Damaskus yang dipanggil Ali bin Mowaffaq.” Kata malaikat yang pertama. “Dia tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni.”

Ketika aku mendengar hal ini, aku terbangun dan memutuskan untuk pergi menuju Damaskus dan mengunjungi orang ini. Jadi aku pergi ke Damaskus dan menemukan tempat dimana ia tinggal. Aku menyapanya dan ia keluar. “ Siapakah namamu dan pekerjaan apa yang kau lakukan?” tanyaku. “Aku Ali bin Mowaffaq, penjual sepatu. Siapakah namamu?”

Kepadanya aku mengatakan Abdullah bin al-Mubarak. Ia tiba-tiba menangis dan jatuh pingsan. Ketika ia sadar, aku memohon agar ia bercerita kepadaku.

Dia mengatakan: “Selama 40 tahun aku telah rindu untuk melakukan perjalanan haji ini. Aku telah menyisihkan 350 dirham dari hasil berdagang sepatu. Tahun ini aku memutuskan untuk pergi ke Mekkah, sejak istriku mengandung. Suatu hari istriku mencium aroma makanan yang sedang dimasak oleh tetangga sebelah, dan memohon kepadaku agar ia bisa mencicipinya sedikit. Aku pergi menuju tetangga sebelah, mengetuk pintunya kemudian menjelaskan situasinya. Tetanggaku mendadak menagis. “Sudah tiga hari ini anakku tidak makan apa-apa,” katanya. “Hari ini aku melihat keledai mati tergeletak dan memotongnya kemudian memasaknya untuk mereka. Ini bukan makanan yang halal bagimu.” Hatiku serasa terbakar ketika aku mendengar ceritanya. Aku mengambil 350 dirhamku dan memberikan kepadanya. “Belanjakan ini untuk anakmu,” kataku. “Inilah perjalanan hajiku.”

“Malaikat berbicara dengan nyata di dalam mimpiku,” kata Abdullah, “dan Penguasa kerajaan surga adalah benar dalam keputusanNya.”

Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al Marwazi lahir pada tahun 118 H/736 M. Ia adalah seorang ahli Hadits yang terkemuka dan seorang petapa termasyhur. Ia sangat ahli di dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, antara lain di dalam bidang gramatika dan kesusastraan. Ia adalah seorang saudagar kaya yang banyak memberi bantuan kepada orang-orang miskin. Ia meninggal dunia di kota Hit yang terletak di tepi sungai Euphrat pada tahun 181 H/797 M.

@Kisah di atas diambil dari buku “Warisan Para Awliya” karya Farid al-Din Attar.(Kabar Haji)

Tujuh Kali Naik Haji Tidak Bisa Melihat Ka’bah

12:48 PM Add Comment
Tujuh kali naik Haji tidak bisa melihat Ka’bah - Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan (bukan nama sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.


Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu, tentu senang dengan ajakan anaknya itu. Sebagai muslim yang mampu secara materi, mereka memang berkewajiban menunaikan ibadah Haji.

Segala perlengkapan sudah disiapkan. Singkatnya ibu anak-anak ini akhirnya berangkat ke tanah suci. Kondisi keduanya sehat wal afiat, tak kurang satu apapun. Tiba harinya mereka melakukan thawaf dengan hati dan niat ikhlas menyeru panggilan Allah, Tuhan Semesta Alam. “Labaik allahuma labaik, aku datang memenuhi seruanMu ya Allah”.
Hasan menggandeng ibunya dan berbisik, “Ummi undzur ila Ka’bah (Bu, lihatlah Ka’bah).” Hasan menunjuk kepada bangunan empat persegi berwarna hitam itu. Ibunya yang berjalan di sisi anaknya tak beraksi, ia terdiam. Perempuan itu sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh anaknya.

Hasan kembali membisiki ibunya. Ia tampak bingung melihat raut wajah ibunya. Di wajah ibunya tampak kebingungan. Ibunya sendiri tak mengerti mengapa ia tak bisa melihat apapun selain kegelapan. beberapakali ia mengusap-usap matanya, tetapi kembali yang tampak hanyalah kegelapan.
 
Padahal, tak ada masalah dengan kesehatan matanya. Beberapa menit yang lalu ia masih melihat segalanya dengan jelas, tapi mengapa memasuki Masjidil Haram segalanya menjadi gelap gulita. Tujuh kali Haji Anak yang sholeh itu bersimpuh di hadapan Allah. Ia shalat memohon ampunan-Nya. Hati Hasan begitu sedih. Siapapun yang datang ke Baitullah, mengharap rahmatNYA. Terasa hampa menjadi tamu Allah, tanpa menyaksikan segala kebesaran-Nya, tanpa merasakan kuasa-Nya dan juga rahmat-Nya.

Hasan tidak berkecil hati, mungkin dengan ibadah dan taubatnya yang sungguh-sungguh, Ibundanya akan dapat merasakan anugrah-Nya, dengan menatap Ka’bah, kelak. Anak yang saleh itu berniat akan kembali membawa ibunya berhaji tahun depan. Ternyata nasib baik belum berpihak kepadanya.
 
Tahun berikutnya kejadian serupa terulang lagi. Ibunya kembali dibutakan di dekat Ka’bah, sehingga tak dapat menyaksikan bangunan yang merupakan symbol persatuan umat Islam itu. Wanita itu tidak bisa melihat Ka’bah.
Hasan tidak patah arang. Ia kembali membawa ibunya ke tanah suci tahun berikutnya.
Anehnya, ibunya tetap saja tak dapat melihat Ka’bah. Setiap berada di Masjidil Haram, yang tampak di matanya hanyalah gelap dan gelap. Begitulah keganjilan yang terjadi pada diri Sarah. hingga kejadian itu berulang sampai tujuh kali menunaikan ibadah haji.
 
Hasan tak habis pikir, ia tak mengerti, apa yang menyebabkan ibunya menjadi buta di depan Ka’bah. Padahal, setiap berada jauh dari Ka’bah, penglihatannya selalu normal. Ia bertanya-tanya, apakah ibunya punya kesalahan sehingga mendapat azab dari Allah SWT ?. Apa yang telah diperbuat ibunya, sehingga mendapat musibah seperti itu ? Segala pertanyaan berkecamuk dalam dirinya. Akhirnya diputuskannya untuk mencari seorang alim ulama, yang dapat membantu permasalahannya.
 
Beberapa saat kemudian ia mendengar ada seorang ulama yang terkenal karena kesholehannya dan kebaikannya di Abu Dhabi (Uni Emirat). Tanpa kesulitan berarti, Hasan dapat bertemu dengan ulama yang dimaksud.

Ia pun mengutarakan masalah kepada ulama yang saleh ini. Ulama itu mendengarkan dengan seksama, kemudian meminta agar Ibu dari hasan mau menelponnya. anak yang berbakti ini pun pulang. Setibanya di tanah kelahirannya, ia meminta ibunya untuk menghubungi ulama di Abu Dhabi tersebut. Beruntung, sang Ibu mau memenuhi permintaan anaknya. Ia pun mau menelpon ulama itu, dan menceritakan kembali peristiwa yang dialaminya di tanah suci. Ulama itu kemudian meminta Sarah introspeksi, mengingat kembali, mungkin ada perbuatan atau peristiwa yang terjadi padanya di masa lalu, sehingga ia tidak mendapat rahmat Allah. Sarah diminta untuk bersikap terbuka, mengatakan dengan jujur, apa yang telah dilakukannya.

“Anda harus berterus terang kepada saya, karena masalah Anda bukan masalah sepele,” kata ulama itu pada Sarah.

Sarah terdiam sejenak. Kemudian ia meminta waktu untuk memikirkannya. Tujuh hari berlalu, akan tetapi ulama itu tidak mendapat kabar dari Sarah. Pada minggu kedua setelah percakapan pertama mereka, akhirnya Sarah menelpon. “Ustad, waktu masih muda, saya bekerja sebagai perawat di rumah sakit,” cerita Sarah akhirnya. “Oh, bagus…..Pekerjaan perawat adalah pekerjaan mulia,” potong ulama itu. “Tapi saya mencari uang sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara, tidak peduli, apakah cara saya itu halal atau haram,” ungkapnya terus terang. Ulama itu terperangah. Ia tidak menyangka wanita itu akan berkata demikian.
 
“Disana….” sambung Sarah, “Saya sering kali menukar bayi, karena tidak semua ibu senang dengan bayi yang telah dilahirkan. Kalau ada yang menginginkan anak laki-laki, padahal bayi yang dilahirkannya perempuan, dengan imbalan uang, saya tukar bayi-bayi itu sesuai dengan keinginan mereka.”

Ulama tersebut amat terkejut mendengar penjelasan Sarah.
“Astagfirullah……” betapa tega wanita itu menyakiti hati para ibu yang diberi amanah Allah untuk melahirkan anak. bayangkan, betapa banyak keluarga yang telah dirusaknya, sehingga tidak jelas nasabnya.
Apakah Sarah tidak tahu, bahwa dalam Islam menjaga nasab atau keturunan sangat penting.
Jika seorang bayi ditukar, tentu nasabnya menjadi tidak jelas. Padahal, nasab ini sangat menentukan dalam perkawinan, terutama dalam masalah mahram atau muhrim, yaitu orang-orang yang tidak boleh dinikahi.

“Cuma itu yang saya lakukan,” ucap Sarah.
“Cuma itu ? tanya ulama terperangah. “Tahukah anda bahwa perbuatan Anda itu dosa yang luar biasa, betapa banyak keluarga yang sudah Anda hancurkan !”. ucap ulama dengan nada tinggi.

“Lalu apa lagi yang Anda kerjakan ?” tanya ulama itu lagi sedikit kesal.
“Di rumah sakit, saya juga melakukan tugas memandikan orang mati.”
“Oh bagus, itu juga pekerjaan mulia,” kata ulama.
 
“Ya, tapi saya memandikan orang mati karena ada kerja sama dengan tukang sihir.”
“Maksudnya ?”. tanya ulama tidak mengerti.
“Setiap saya bermaksud menyengsarakan orang, baik membuatnya mati atau sakit, segala perkakas sihir itu sesuai dengan syaratnya, harus dipendam di dalam tanah. Akan tetapi saya tidak menguburnya di dalam tanah, melainkan saya masukkan benda-benda itu ke dalam mulut orang yang mati.”

“Suatu kali, pernah seorang alim meninggal dunia. Seperti biasa, saya memasukkan berbagai barang-barang tenung seperti jarum, benang dan lain-lain ke dalam mulutnya. Entah mengapa benda-benda itu seperti terpental, tidak mau masuk, walaupun saya sudah menekannya dalam-dalam. Benda-benda itu selalu kembali keluar. Saya coba lagi begitu seterusnya berulang-ulang. Akhirnya, emosi saya memuncak, saya masukkan benda itu dan saya jahit mulutnya. Cuma itu dosa yang saya lakukan.”

Mendengar penuturan Sarah yang datar dan tanpa rasa dosa, ulama itu berteriak marah.
“Cuma itu yang kamu lakukan ? Masya Allah….!!! Saya tidak bisa bantu anda. Saya angkat tangan”.
Ulama itu amat sangat terkejutnya mengetahui perbuatan Sarah. Tidak pernah terbayang dalam hidupnya ada seorang manusia, apalagi ia adalah wanita, yang memiliki nurani begitu tega, begitu keji. Tidak pernah terjadi dalam hidupnya, ada wanita yang melakukan perbuatan sekeji itu.
Akhirnya ulama itu berkata, “Anda harus memohon ampun kepada Allah, karena hanya Dialah yang bisa mengampuni dosa Anda.”
 
Bumi menolaknya. Setelah beberapa lama, sekitar tujuh hari kemudian ulama tidak mendengar kabar selanjutnya dari Sarah. Akhirnya ia mencari tahu dengan menghubunginya melalui telepon. Ia berharap Sarah telah bertobat atas segala yang telah diperbuatnya. Ia berharap Allah akan mengampuni dosa Sarah, sehingga Rahmat Allah datang kepadanya. Karena tak juga memperoleh kabar, ulama itu menghubungi keluarga Hasan di mesir. Kebetulan yang menerima telepon adalah Hasan sendiri. Ulama menanyakan kabar Sarah, ternyata kabar duka yang diterima ulama itu.
“Ummi sudah meninggal dua hari setelah menelpon ustad,” ujar Hasan.
Ulama itu terkejut mendengar kabar tersebut.
“Bagaimana ibumu meninggal, Hasan ?”. tanya ulama itu.

Hasanpun akhirnya bercerita : Setelah menelpon sang ulama, dua hari kemudian ibunya jatuh sakit dan meninggal dunia. Yang mengejutkan adalah peristiwa penguburan Sarah. Ketika tanah sudah digali, untuk kemudian dimasukkan jenazah atas ijin Allah, tanah itu rapat kembali, tertutup dan mengeras. Para penggali mencari lokasi lain untuk digali. Peristiwa itu terulang kembali. Tanah yang sudah digali kembali menyempit dan tertutup rapat. Peristiwa itu berlangsung begitu cepat, sehingga tidak seorangpun pengantar jenazah yang menyadari bahwa tanah itu kembali rapat. Peristiwa itu terjadi berulang-ulang. Para pengantar yang menyaksikan peristiwa itu merasa ngeri dan merasakan sesuatu yang aneh terjadi. Mereka yakin, kejadian tersebut pastilah berkaitan dengan perbuatan si mayit.

Waktu terus berlalu, para penggali kubur putus asa dan kecapaian karena pekerjaan mereka tak juga usai. Siangpun berlalu, petang menjelang, bahkan sampai hampir maghrib, tidak ada satupun lubang yang berhasil digali. Mereka akhirnya pasrah, dan beranjak pulang. Jenazah itu dibiarkan saja tergeletak di hamparan tanah kering kerontang.
Sebagai anak yang begitu sayang dan hormat kepada ibunya, Hasan tidak tega meninggalkan jenazah orang tuanya ditempat itu tanpa dikubur. Kalaupun dibawa pulang, rasanya tidak mungkin. Hasan termenung di tanah perkuburan seorang diri.

Dengan ijin Allah, tiba-tiba berdiri seorang laki-laki yang berpakaian hitam panjang, seperti pakaian khusus orang Mesir. Lelaki itu tidak tampak wajahnya, karena terhalang tutup kepalanya yang menjorok ke depan. Laki-laki itu mendekati Hasan kemudian berkata padanya,” Biar aku tangani jenazah ibumu, pulanglah!”. kata orang itu.

Hasan lega mendengar bantuan orang tersebut, Ia berharap laki-laki itu akan menunggu jenazah ibunya. Syukur-syukur mau menggali lubang untuk kemudian mengebumikan ibunya.
“Aku minta supaya kau jangan menengok ke belekang, sampai tiba di rumahmu, “pesan lelaki itu.
Hasan mengangguk, kemudian ia meninggalkan pemakaman. Belum sempat ia di luar lokasi pemakaman, terbersit keinginannya untuk mengetahui apa yang terjadi dengan kenazah ibunya.

Sedetik kemudian ia menengok ke belakang. Betapa pucat wajah Hasan, melihat jenazah ibunya sudah dililit api, kemudian api itu menyelimuti seluruh tubuh ibunya. Belum habis rasa herannya, sedetik kemudian dari arah yang berlawanan, api menerpa wajah Hasan. Hasan ketakutan. Dengan langkah seribu, ia pun bergegas meninggalkan tempat itu.
 
Demikian yang diceritakan Hasan kepada ulama itu. Hasan juga mengaku, bahwa separuh wajahnya yang tertampar api itu kini berbekas kehitaman karena terbakar. Ulama itu mendengarkan dengan seksama semua cerita yang diungkapkan Hasan. Ia menyarankan, agar Hasan segera beribadah dengan khusyuk dan meminta ampun atas segala perbuatan atau dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh ibunya. Akan tetapi, ulama itu tidak menceritakan kepada Hasan, apa yang telah diceritakan oleh ibunya kepada ulama itu.
 
Ulama itu meyakinkan Hasan, bahwa apabila anak yang soleh itu memohon ampun dengan sungguh-sungguh, maka bekas luka di pipinya dengan ijin Allah akan hilang. Benar saja, tak berapa lama kemudian Hasan kembali mengabari ulama itu, bahwa lukanya yang dulu amat terasa sakit dan panas luar biasa, semakin hari bekas kehitaman hilang. Tanpa tahu apa yang telah dilakukan ibunya selama hidup, Hasan tetap mendoakan ibunya. Ia berharap, apapun perbuatan dosa yang telah dilakukan oleh ibunya, akan diampuni oleh Allah SWT.

Sumber: Tausyiah275
Photo by kang deddy from google(Kabar Haji)

Jenis Hewan untuk Kurban

12:38 PM Add Comment
Jenis Hewan untuk Kurban - Jenis hewan (Binatang) untuk Kurban (Qurban) sebagaimana disebutkan dalam Surat Al Hajj ayat 34 hewan yang dapat disembelih untuk ibadah kurban adalah dari jenis Bahiimatul Al An’aam (hewan ternak). Dalam bahasa arab, yang dimaksud Bahiimatul Al An’aam hanya mencakup tiga binatang yaitu onta, sapi atau kambing.

Menurut qoul (pendapat) sebagian besar ulama, selain menggunakan onta, sapi, dan kambing, binatang lainnya yang dapat disembelih adalah domba dan kerbau. Domba (biri-biri) disamakan dengan kambing sedangkan kerbau disamakan dengan sapi.

Pengertian hewan ternak menurut para ahli fiqih (ulama) berbeda dengan pengertian binatang ternak pada umumnya. Karena itu hewan-hewan seperti ayam, angsa, kuda, ikan, maupun burung unta meskipun diternakkan tetapi tidak dapat digunakan sebagai hewan kurban. Apalagi jika menggunakan binatang liar semisal rusa, kancil, dan kijang.

Kambing Ternak
Kambing ternak dalam bahasa latin disebut Capra aegagrus hircus merupakan subspesies kambing liar yang tersebar di Asia Barat Daya dan Eropa. Kambing telah dibudidayakan oleh manusia semenjak 8000 hingga 9000 tahun yang lalu.

Kambing ternak ini menjadi salah satu jenis hewan yang bisa disembelih dalam kurban. Seekor kambing dapat digunakan untuk berkurban oleh satu orang saja.

Klasifikasi ilmiah kambing ternak: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Mammalia; Ordo: Artiodactyla; Famili: Bovidae; Upafamili: Caprinae; Genus: Capra; Spesies: Capra aegagrus; Upaspesies: Capra aegagrus hircus (Linnaeus, 1758)

Domba peliharaan
Domba atau biri-biri peliharaan yang dalam bahasa latin disebut Ovis aries diperkirakan keturunan dari moufflon liar dari Asia Tengah selatan dan barat-daya. Domba (biri-biri) termasuk diantara hewan yang pertama dipelihara manusia. Diperkirakan binatang ini mulai diternakkan sejak 11.000 tahun yang silam di Mesopotamia

Domba peliharaan ini menjadi salah satu jenis hewan yang bisa disembelih dalam kurban. Sebagaimana kambing, satu ekor domba dapat digunakan untuk kurban satu orang.

Klasifikasi ilmiah domba peliharaan: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Mammalia; Ordo: Artiodactyla; Famili: Bovidae; Upafamili: Caprinae; Genus: Ovis; Spesies: Ovis aries (Linnaeus, 1758).

Sapi Ternak
Sapi ternak yang dalam bahasa latin disebut Bos taurus merupakan keturunan dari jenis sapi liar yang dikenal sebagai “Auerochse” atau “Urochse” (Bos primigenius) di Eropa yang sudah punah sejak 1627. Sapi telah dipelihara manusia sejak jaman Neolitik atau sekitar tahun 9.500 SM di daerah Timur Tengah. Selain Bos taurus juga terdapat sapi bali yang merupakan domestikasi dari banteng (Bos javanicus).

Sapi termasuk salah satu jenis hewan yang bisa disembelih dalam kurban. Satu ekor sapi dapat digunakan untuk kurban oleh 7 orang secara bersama-sama.

Klasifikasi ilmiah sapi: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Mammalia; Ordo: Artiodactyla; Famili: Bovidae; Upafamili: Bavinae; Genus: Bos; Spesies: Bos taurus (Linnaeus , 1758); Sinonim: Bos indicus.

Kerbau
Kerbau yang dalam bahasa latin disebut Bubalus bubalis asal usulnya (termasuk taksonominya) masih menjadi perdebatan. Kerbau diperkirakan telah dipelihara manusia sejak 5000 tahun yang lalu.

Kerbau dapat dijadikan sebagai binatang qurban. Seperti halnya sapi, seekor kerbau dapat digunakan untuk kurban oleh 7 orang secara bersama-sama.

Klasifikasi ilmiah kerbau: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Mammalia; Ordo: Artiodactyla; Famili: Bovidae; Upafamili: Bavinae; Genus: Bubalus; Sepesies: Bubalus bubalis (Kerr, 1792).

Unta
Unta atau onta merupakan anggota genus Camelus yang terdiri atas dua spesies yaitu Unta berpunuk tunggal (Camelus dromedarius) dan unta berpunuk ganda (Camelus bactrianus). Unta dipelihara manusia (domestikasi) sejak 5.000 tahun yang lalu.


Unta menjadi salah satu binatang yang dapat digunakan sebagai hewan kurban. Seekor unta dapat digunakan kurban oleh 10 orang bersama-sama.

Klasifikasi ilmiah unta: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Mammalia; Ordo: Artiodactyla; Famili: Camelidae; Genus: Camelus; Spesies: Camelus dromedarius dan Camelus bactrianus (Linnaeus, 1758).

Selain dengan menggunakan binatang ternak yang telah ditentukan tersebut, hewan qurban memiliki beberapa syarat lain. Syarat itu seperti keadaan hewan kurban yang tidak cacat fisik, usia hewan yang telah cukup umur (satu tahun lebih untuk domba; dua tahun lebih untuk kambing, sapi, dan kerbau; dan 5 tahun lebih untuk unta).(Kabar Haji)

Narapidana Lapas Pekanbaru Arisan untuk Berkurban

12:35 PM Add Comment
Narapidana Lapas Pekanbaru Arisan untuk Berkurban - Suasana meriah menyambut hari raya Idul Adha 1436 Hijriah di Lembaga Pemasyarakataan Kelas II-A Pekanbaru. Lantunan takbir menggema di tengah lapangan saat ratusan narapidana melaksanakan salat id. Mantan Gubernur Riau Rusli Zainal bertindak sebagai imam. Seusai salat, para narapidana kompak memotong sapi kurban. "Ada lima ekor sapi kami kurbankan tahun ini," kata Kepala Lapas Kelas II-A Pekanbaru, Dadi Mulyadi, Kamis, 24 September 2015.


Dadi menyebutkan, lima ekor sapi kurban merupakan sumbangan dari keluarga besar pegawai lapas beserta narapidana yang menghuni lapas itu. Sumbangan sapi kurban dari narapidana sudah dipersiapkan jauh hari sebelum lebaran haji tiba melalui program pembinaan spiritual keagamaan. Meski mendekam di balik jeruji, warga binaan masih mampu ikut berkurban. "Caranya dengan arisan bulanan," ujarnya.

Dadi menceritkan, para narapidana yang mengikuti program kurban awalnya melakukan arisan setiap bulannya bersama pegawai Lapas. Enam bulan sebelum hari raya tiba, baik pegawai maupun narapidana sudah mencicil Rp 200 ribu setiap bulan untuk pembelian sapi. "Dari arisan bulanan itu digunakan membeli sapi kurban saat Lebaran ini," katanya.

Daging sapi kurban dibagi-bagikan untuk masyarakat sekitar Lapas. "Sebagian lagi untuk warga binaan yang berada di dalam Lapas," ujarnya.

Salah seorang Narapidana Alfian mengatakan, niat berkurban telah mereka rancang sejak enam bulan lalu. Selain dengan arisan bulanan, mereka memiliki koperasi tersendiri. Di Lapas Pekanbaru, kata Alfian, narapidana dibekali pembinaan wirausaha. Narapidana dapat mengembangkan potensi dirinya melalui kerajinan dan keterampilan. Berbagai kegiatan mereka lakukan untuk memperoleh penghasilan seperti peternakan itik petelur yang menghasilkan 4.500 butir telur setiap bulannya. "Omzet dari telur itik itu Rp 20 juta per bulan," tuturnya.

Narapidana juga menghasilkan kain songket dan sendal hotel yang ditampung oleh perhotelan di Pekanbaru. Belum lagi peternakan ikan dan perkebunan sayur yang juga menghasilkan pendapatan hingga Rp 20 juta setiap kali panen.(Kabar Haji)

Jeroan Hewan Kurban Disarankan Tak Dibagikan

12:33 PM Add Comment
Jeroan Hewan Kurban Disarankan Tak Dibagikan  - Dinas Pertanian Kota Semarang mengimbau kepada panitia kurban agar tidak membagikan jeroan atau organ dalam tubuh hewan kurban ke masyarakat. Imbauan itu terkait dengan temuan sejumlah jenis penyakit yang bisa ditularkan lewat organ dalam sapi yang telah terkena penyakit.


“Sebaiknya jangan dibagikan, siapa tahu sapi sedang mengidap penyakit yang bisa menularkan ke manusia,” kata Kepala Seksi Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kota Semarang Adhityani, Ahad, 5 Oktober 2014. (Baca juga: Hewan Kurban di Malang Terinfeksi Cacing Hati)

Selain penyakit cacing hati, tim pemeriksa penyembelihan hewan kurban di Kota Semarang menemukan infeksi paru atau pneumonia pada sapi yang telah disembelih.

Petugas Klinik Hewan Gayamsari, Kota Semarang, Hutamadi, membenarkan temuan penyakit paru pada sapi saat dia memeriksa hewan kurban di Masjid Agung Kota Semarang. Menurut dia, sapi yang terjangkit penyakit itu mudah menularkan ke hewan lain saat penjualan atau pemeliharaan. “Makanya, kami minta paru-paru dan hati yang terbukti mengandung penyakit dibuang,” ujar Hutamadi.

Pemerintah Kota Semarang akan terus memeriksa hewan korban saat penyembelihan pada tiga hari ke depan. Sebanyak 55 petugas medis hewan disebarkan untuk memeriksa hewan kurban yang telah disembelih. (Kabar Haji)

Pegawai Kementerian Keuangan Dibuatkan Tabungan Kurban

12:32 PM Add Comment
Pegawai Kementerian Keuangan Dibuatkan Tabungan Kurban - Kementerian Keuangan berencana membuat tabungan kurban agar jumlah hewan yang disembelih saat Idul Adha lebih banyak. Ide untuk membuat tabungan kurban ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan Hadiyanto.



"Mungkin teknisnya dengan pemotongan langsung tunjangan kinerja," ujar Hadiyanto saat pemotongan hewan kurban di kantor Kementerian Keuangan, Jumat, 25 September. Pernyataan itu disambut tepuk tangan para undangan.

Dalam acara pemotongan hewan kurban, tercatat jumlah hewan yang disembelih sebanyak tiga ekor sapi dan 25 ekor kambing. Daging kurban itu nantinya dibagikan kepada petugas kebersihan, teknisi listrik, petugas taman, dan satuan keamanan.

Tahun depan, menurut Hadiyanto, diharapkan jumlah kurban dari pegawai Kementerian Keuangan mencapai sebelas ekor sapi. "Nanti tiap-tiap eselon satu menyumbang satu hewan kurban," ujarnya.

Penambahan jumlah hewan kurban ini, menurut Hadi, dibutuhkan karena jumlah penerima kurban mencapai 1.300 orang. "Pejabat-pejabat yang lain mungkin ada yang kurbannya di kampung masing-masing," ucapnya(Kabar Haji)

Jagal Diminta Tak Merokok Kala Sembelih Hewan Kurban

12:28 PM Add Comment
Jagal Diminta Tak Merokok Kala Sembelih Hewan Kurban - Khawatir mengandung bahan berbahaya yang mudah larut, Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Sleman meminta masyarakat tidak menggunakan plastik hitam untuk bungkus daging kurban.



Kepala Bidang Peternakan DPPK Sleman, Suwandi Aziz, menjelaskan plastik hitam dikhawatirkan terbuat dari bahan plastik daur ulang. Plastik berbahan tersebut biasanya mengandung karsinogenik dan dapat larut ke dalam daging.

“Jika sudah larut dan dikonsumsi dalam jangka panjang bisa berbahaya bagi tubuh. Terutama bisa menyebabkan gagal ginjal,” ungkap Suwandi kepada Tribun Jogja, Selasa (22/9/2015).

Ia menyarankan pengemasan daging kurban menggunakan plastik transparan atau putih. Saran ini sudah ia sampaikan kepada takmir masjid saat sosialisasi penyembelihan hewan kurban beberapa waktu lalu.

"Kami sampaikan kepada panitia kurban untuk benar-benar memperhatikan hal ini, sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat,” imbuh dia.

Saat pelaksanaan pemotongan hewan kurban, petugas Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Sleman akan terjun memberikan pendampingan kepada masyarakat, dibantu mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan UGM.

“Tim akan kami sebar ke sentra pemotongan hewan. Masyarakat dapat meminta bantuan pendampingan mulai dari pemotongan hingga pengemasan kepada petugas yang ada di lapangan,” kata Aziz.

Terpisah, Direktur Pusat Kajian Halal Fakultas Peternakan UGM, Nanung Danar Dono, mengatakan masyarakat diminta untuk memeriksa organ dalam hewan kurban setelah proses penyembelihan.

Jika ditemukan keganjilan pada organ tersebut disarankan segera menghubungi ahli kesehatan ternak yang ada di lapangan. Kasus yang kerap ditemui adalah bintik-bintik atau totol pada hati hewan kurban yang sudah disembelih.

Tanda tersebut bisa jadi terindikasi cacing hati pada hewan yang disembelih. "Kami juga menyarankan masyarakat tak menyembelih sambil merokok karena akan mencemari daging dengan aroma tidak sedap,” papar dia.(Kabar Haji)

KH Cholil Nafis: Qurban Sarana Ibadah Sosial

12:25 PM Add Comment
KH Cholil Nafis: Qurban Sarana Ibadah Sosial - Kata qurban (qurb) bermakna dekat atau mendekati. Maksudnya, kegiatan penyembelihan binatang ternak yang dilakukan pada hari raya haji atau 'Idul Adha, yakni tanggal 10, 11, 12 dan 13 Zulhijah, bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dalam studi fiqih, qurban (dalam bahasa Indonesia, kurban, red) sering juga disebut dengan istilah udlhiyah, karena penyembelihan binatang ternak dilakukan saat matahari pagi sedang naik (duha). Karenanya, Ibn Qayyim al-Jauziyah memahami makna qurban dengan tindakan seseorang menyembelih hewan ternak pada saat duha, guna menghasilkan kedekatan dengan rida Allah SWT.
Binatang qurban yang disebut udlhiyah atau nahar adalah simbolisasi tadhiyah yakni pengorbanan. Baik udlhiyah maupun tadlhiyah posisinya sama sebagai ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah (taqarruban wa qurbanan). Jika menyembelih udlhiyah merupakan ibadah material yang ritual, maka taldhiyah atau pengorbanan di jalan Allah SWT merupakan ibadah keadaban yang memajukan sektor-sektor kehidupan yang lebih luas

Dalam ibadah qurban, nilai paling esensial adalah sikap batin berupa keikhlasan, ketaatan dan kejujuran. Tindakan lahiriah tetap penting, kalau memang muncul dari niat tulus. Sering kita digoda setan agar tak melaksanakan ibadah qurban karena khawatir tidak ikhlas. Imam al Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin-nya berkata, bahwa setan selalu membisiki kita: “Buat apa engkau beribadah kalau tidak ikhlas, lebih baik sekalian tidak beribadah.”

Ibadah Qurban bukan hanya mementingkan tindakan lahiriyah, berupa menyedekahkan hewan ternak kepada orang lain terutama fakir miskin, tapi lebih penting adalah nilai ketulusan guna mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dalam beberapa ayat Alquran, Allah SWT memperingatkan bahwa yang betul-betul membuahkan kedekatan dengan-Nya (qurban), bukanlah fisik hewan qurban, melainkan nilai takwa dan keikhlasan yang ada dalam jiwa kita. Dalam surah al-Hajj ayat 37, Allah SWT menyebutkan: "Tidak akan sampai kepada Allah daging (hewan) itu, dan tidak pula darahnya, tetapi yang akan sampai kepada-Nya adalah takwa dari kamu."

Penegasan Allah SWT ini mengindikasikan dua hal. Pertama, penyembelihan hewan ternak sebagai Qurban, merupakan bentuk simbolik dari tradisi Nabi Ibrahim as, dan merupakan syiar ajaran Islam. Kedua, Allah SWT hanya menginginkan nilai ketakwaan, dari orang yang menyembelih hewan ternak sebagai ibadah qurban. Indikasi ini sejalan dengan peringatan Rasulullah Saw: “Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat bentuk luarmu dan harta bendamu, tetapi Dia melihat hatimu dan perbuatanmu.”

Usaha mendekatkan diri kepada Tuhan terutama melalui qurban, kita lakukan secara terus menerus. Karena itulah agama Islam disebut sebagai jalan (syari'ah, thariqah, dan shirat) menuju dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Melakukan qurban bersifat dinamis dan tiada pernah berhenti, menempuh jalan yang hanya berujung kepada rida Allah SWT. Dengan demikian wujud yang paling penting dari qurban adalah seluruh perbuatan baik. Hanya dengan begitulah kita dapat mendekati Allah SWT, sesuai dengan firman-Nya: "Barangsiapa mengharap bertemu Tuhannya, hendaklah ia berbuat kebaikan, dan janganlah beribadat kepada-Nya itu dengan memperserikatkannya kepada suatu apapun juga” (Surah al-Kahfi: 110).

Sehubungan dengan perintah untuk berqurban di atas, maka Rasulullah Saw setiap tahun selalu menyembelih hewan qurban dan tidak pernah meninggalkannya. Meskipun dari sisi ekonomi beliau termasuk orang yang pas-pasan, tidak mempunyai rumah yang indah, apalagi mobil yang mewah. Bahkan tempat tidurnya hanya terbuat dari tikar anyaman daun kurma, tetapi setiap tahun beliau selalu memotong hewan qurban. Oleh karena itu, orang Muslim yang telah mempunyai kemampuan untuk berqurban tetapi tidak mau melaksanakannya boleh dikenakan sanksi sosial, ialah diisolasi dari pergaulan masyarakat muslim. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw. dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah ra: “Barangsiapa yang mempunyai kemampuan menyembelih hewan qurban tetapi tidak melaksanakannya, maka janganlah sekali-kali ia mendekati tempat shalat kita.” (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majah)

Demikian agungnya makna serta pahala udlhiyah, tadlhiyah sebagai wujud pengorbanan untuk memajukan hidup sekaligus mendekatkan diri kepada Allah SWT. Menumbuh kembangkan spirit pengorbanan untuk berbagi dengan yang lain merupakan bagian mendasar dalam rangka pembentukan karakter masyarakat dan bangsa yang beradab. Melaksanakan Ibadah qurban dimaksudkan untuk menbangun spirit berbagi dengan cara menghilangkan sifat kehewanan yang disimbolkan dengan penyembelihan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Menghilangkan rasa terlalu cinta dunia sampai takut mati. Ada keterkaitan yang erat antara kepentingan duniawi dan ukhrawi.

Demikian juga kehidupan sosial kita sebagai sarana dalam kehidupan spiritual. Seorang pemimpin sejati akan lebih kuat tarikannya pada ”kekitaan” untuk memikirkan masyarakatnya daripada tarikan pada ke ”akuan” untuk semata memikirkan kepentingan diri sendiri. Untuk kemaslahatan umat, pemimpin rela mengorbankan ”akunya” jika diperlukan demi umatnya. Demikian halnya dengan negarawan, menempatkan ”akunya” dalam ke kitaan. Itulah yang dicontohkan oleh baginda Rasulullah Saw, sebagai sosok pemimpin yang datang dari kita ”min anfusikum”, penuh perhatian pada kita ”’azizun ’alaihi ma ’anittum”, selalu konsen kepada kepentingan kita ”harishun ’alaikum”, dan secara adil/proporsional memberi kasih sayangnya kepada semua ”bil mukminina raufurrahim”.(Kabar Haji)

Luruskan Niat Sebelum Umrah

4:50 AM Add Comment
Luruskan Niat Sebelum Umrah - Penceramah, Ustazah Mimin Aminah mengatakan, kaum Muslimin yang akan melaksanakan umrah harus meluruskan niatnya terlebih dulu yakni karena Allah. Faktor niat amat menentukan kemabruran ibadah seseorang.


"Alquran dengan tegas menyatakan kaum Muslimin yang akan melaksanakan ibadah haji maupun umrah harus terlebih dulu meluruskan niat yakni karena Allah. Bukan niat yang lainnya," kata pembimbing umrah Mazq Tour, Ustazah Mimin Aminah, di Hotel Harris, Sabtu (31/10/2015).

Lebih jauh Mimin menyatakan, ibadah dalam Islam harus bisa menimbulkan dampak kepada pelaksananya. "Dalam ibadah haji maupun umrah dikenal adanya istilah mabrur yakni haji atau umrah yang diterima. Salah satu tanda mabrur adalah perilaku setelah haji dan umrah lebih baik daripada sebelumnya," ucapnya.

Dia mengimbau agar kaum Muslimin tidak terlalu memikirkan masalah keluarga, harta, maupun pekerjaannya ketika akan melaksanakan haji atau umrah. "Tak ada yang lebih nikmat di dunia apabila ibadah kita diterima Allah. Syarat ibadah diterima harus bersikap ikhlas dan sesuai dengan contoh Rasulullah," ujarnya.(Kabar Haji)

Syarat Badal Haji

4:39 AM Add Comment
Syarat Badal Haji - Tanya:

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Semoga Allah SWT selalu memberikan perlindungan dan keberkahannya kepada ustadz sekeluarga. Mohon kiranya ustadz menjelaskan tiga pertanyaan saya berikut ini :



1. Apa dasar hukum dari haji untuk orang lain atau badal haji?
2. Apa saja syarat-syarat yang harus terpenuhi pada diri orang yang dihajikan?
3. Dan apa saja syarat-syarat buat orang yang menghajikan untuk orang lain?

Demikian pertanyaan saya dan terima kasih.

Wassalam

Jawab:

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Istilah badal haji punya istilah yang lebih baku dalam ilmu fiqih, yaitu al-hajju ‘anil ghair. Maknanya adalah berhaji untuk orang lain. Intinya seseorang mengerjakan ibadah haji bukan untuk dirinya tetapi untuk orang lain.

Untuk itu ada beberapa syarat dan ketentuan, baik terkait dengan yang menghajikan dan yang dihajikan.

1. Dasar Hukum Badal Haji

Berhaji dengan niat untuk orang lain ini didasarkan kepada beberapa hadits Rasulullah SAW, diantaranya hadits seorang wanita dari suku Khasy’am yang bertanya kepada beliau SAW tentang Ayahnya yang masih hidup namun sudah sangat sepuh dan tidak mampu berangkat haji :

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لا يَثْبُتُ عَلَى الرَّاحِلَةِ أَفَأَحُجُّ عَنْهُ قَالَ نَعَمْ وَذَلِكَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ

Wahai Rasulullah, sesungguhnya kewajiban dari Allah untuk berhajji bagi hamba-hambaNya datang saat bapakku sudah tua renta dan dia tidak akan kuat menempuh perjalanannya. Apakah aku boleh menghajjikan atas namanya?. Beliau menjawab: Boleh. Peristiwa ini terjadi ketika hajji wada’ (perpisahan). (HR. Bukhari)

Selain itu juga hadits lain yang senada, yang meriwayatkan tentang seorang wanita dari suku Juhainah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang ibunya yang sewaktu masih hidup pernah bernadzar untuk berangkat haji namun belum kesampaian sudah wafat.

إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ وَلَمْ تَحُجّ حَتَّى مَاتَتْ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنَ أَكُنْتِ قَاضِيْتُهُ؟ اقْضُوا اللهَ فاللهُ أَحَقُّ بِالوَفَاءِ

“Ibu saya pernah bernadzar untuk mengerjakan haji, namun belum sempat mengerjakannya beliau meninggal dunia. Apakah saya boleh mengerjakan haji untuk beliau?”. Rasulullah SAW menjawab,”Ya, kerjakan ibadah haji untuk beliau. Tidakkah kamu tahu bahwa bila ibumu punya hutang, bukankah kamu akan melunasinya?”. Lunasilah hutang ibumu kepada Allah, karena hutang kepada Allah harus lebih diutamakan. (HR. Bukhari)

2. Syarat Bagi Orang yang Dihajikan

Kalau kita bicara tentang syarat yang harus terpenuhi pada diri orang yang minta dihajikan, setidaknya ada dua syarat. Pertama, orang itu sudah memenuhi syarat kewajiban haji. Kedua, orang itu mengalami al-ajzu.

a. Cukup Syarat Kewajiban Haji

Syarat yang paling utama adalah sudah tercukupinya kewajiban haji atas dirinya, seperti beragama Islam, aqil, baligh, merdeka dan punya harta yang dapat membiayai semua perjalanan ibadah hajinya.

Maka seorang yang bukan beragama Islam ketika masih hidupnya dan mati dalam keadaan bukan muslim, dia tidak boleh dihajikan oleh keluarganya yang muslim. Sebab orang itu pada dasarnya memang bukan termasuk mereka yang dibebani untuk mengerjakan ibadah haji.

Demikian pula halnya dengan anak kecil yang meninggalkan dunia, orang tuanya tidak perlu menghajikannya, karena pada dasarnya anak kecil memang belum diwajibkan untuk mengerjakan haji.

Orang gila yang tidak waras juga bukan termasuk orang yang wajib mengerjakan ibadah haji, maka keluarganya tidak perlu menghajikannya.

b. Al-’Ajzu

Orang yang cukup syarat wajib haji atas dirinya bisa saja mengalami al-ajzu, yaitu ketidak-mampuan secara fisik untuk berangkat sendiri dan mengerjakannya ibadah haji sendiri. Bisa saja karena sakit atau karena didahului oleh kematian. Para ulama mengistilahkannya dengan sebutan al-’ajzu (kelemahan).

Maka orang yang sehat dan mampu untuk berangkat sendiri ke tanah suci, tidak boleh meminta orang lain untuk mengerjakan seluruh rangkaian ibadah haji untuk dirinya, lalu dia duduk manis di rumahnya sambil nonton TV dan makan-makan.

3. Syarat Orang yang Menjadi Badal (Berhaji untuk Orang Lain)

a. Terpenuhi Syarat Sah Haji Bagi Dirinya

Sebagaimana sudah dijabarkan pada bab-bab sebelum, bahwa yang termasuk ke dalam syarat-syarat sah haji adalah beragama Islam dan berakal. Dan khusus buat para wanita, syaratnya harus ada izin dari suami atau mahram serta tidak sedang dalam masa iddah.

b. Sudah Pernah Berhaji

Orang yang akan menjadi badal atau berhaji untuk orang lain itu disyaratkan harus sudah pernah sebelumnya mengerjakan ibadah haji yang hukumnya wajib, yaitu haji wajib untuk dirinya sendiri.

Dasarnya adalah hadits berikut :

حُجّ عَنْ نَفْسِكَ ثُمَّ حُجّ عَنْ شُبْرُمَة

Lakukan dulu haji untuk dirimu baru kemudian berhajilah untuk Syubrumah. (HR. Bukhari)

Kisahnya adalah ketika Rasulullah SAW mendengar seseorang yang mengerjakan haji dengan niat untuk orang lain. Orang itu mengucapkan : labbaika an Syubrumah. Maksudnya dia melafazkan niat haji dengan mengucapkan bahwa Aku mendengar panggilan-Mu atas nama Syubrumah.

Rasulullah SAW kemudian bertanya,”Siapa Syubrumah?”. Orang itu menjawab bahwa Syubrumah adalah saudaranya atau familinya. Lalu Rasullah SAW bertanya lagi,”Apakah kamu sudah pernah berhaji untuk dirimu sendiri”?. Orang itu menjawab,”Belum”. Maka Rasulullah SAW menegaskan bahwa orang itu harus berhaji untuk dirinya sendiri dulu, baru setelah untuk orang lain.

Para ulama menarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan berhaji untuk dirinya sendiri adalah haji Islam atau haji yang hukumnya wajib. Atau dengan kata lain bahwa orang itu harus sudah menggugurkan kewajibannya untuk mengerjakan ibadah haji sebagai mukallaf, baru setelah itu dia boleh mengerjakan haji untuk orang lain yang hukumnya sunnah.

Dan hal itu hanya terjadi ketika seseorang sudah berusia baligh. Sebab haji yang dilakukan oleh seorang anak kecil yang belum baligh, meski pun hukumnya sah, namun nilainya hanya sekedar menjadi haji yang hukumnya sunnah. Belum lagi menjadi haji yang wajib hukumnya.

Maka kalau orang itu pernah haji sekali saja tetapi masih usia kanak-kanak, dia masih belum boleh melakukan haji untuk orang lain, karena belum cukup syaratnya.

c. Yang Dihajikan Meninggal Dalam Keadaan Muslim

Syarat kedua adalah apabila yang dihajikan itu orang yang telah meninggal dunia, syaratnya bahwa dia adalah seorang muslim, minimal pada saat terakhir dari detik-detik kehidupannya.

Sebab orang yang matinya bukan dalam keadaan iman dan berislam, maka haram hukumnya untuk didoakan, termasuk juga haram untuk dihajikan.

Dasarnya secara umum adalah ayat Al-Quran yang mengharamkan kita umat Islam untuk mendoakan jenazah orang kafir atau memintakan ampunan.

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُواْ أُوْلِي قُرْبَى مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat, sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.(QS. At-Taubah : 113)

Adapun apakah orang itu pernah mengerjakan dosa, maksiat atau hal-hal yang kita tidak tahu kedudukannya, tentu tidak bisa dijadikan dasar untuk melarangnya. Satu-satu halangan untuk menghajikannya adalah bila orang itu benar-benar telah jelas berstatus bukan muslim secara formal dan sah.

d. Orang Yang Dihajikan Benar-benar Tidak Mampu

Dimungkinkan juga mengerjakan haji untuk orang yang belum meninggal dunia dan masih hidup. Maka kalau orang yang dihajikan itu masih hidup, syaratnya selain dia harus berstatus muslim, dia adalah orang yang benar-benar tidak mampu untuk mengerjakan rangkaian ibadah haji secara fisik.

Yang dimaksud dengan ketidak-mampuan itu bukan dari segi finansial, tetapi karena usianya yang sudah sangat tua dan menyulitkan dirinya, atau pun karena faktor kesehatan yang kurang mengizinkan dan sulit diharapkan untuk mendapatkan kesembuhan dalam waktu dekat.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ahmad Sarwat, Lc., MA
Direktur Rumah Fiqh Indonesia (rumahfiqh.com)(Kabar Haji)

Enam Sunnah di Hari Raya Idul Adha

4:31 AM Add Comment
Enam Sunnah di Hari Raya Idul Adha - Hari Raya Idul Adha biasa dikenal dengan Hari Raya Kurban atau Hari Raya Haji, karena pada hari itu kegiatan kurban dan ibadah haji dilaksanakan.

Sebagai salah satu ibadah tahunan, hendaknya kita laksanakan dengan sesempurna mungkin dengan menjalankan semua amalan-amalan sunnah pada hari tersebut.



Niat tulus dan mengharap pahala dari Allah SWT juga penting karena tanpa niat yang tulus, maka semua amal akan percuma.

Berikut enam sunnah yang Rasulullah anjurkan dalam Hari Raya Kurban, untuk mempermudah ummat, Para Ulama Salaf telah menuliskan sunnah tersebut dalam kitab-kitabnya:

Pertama, Mengumandangkan takbir di Masjid-masjid, Mushalla dan rumah-rumah pada malam hari raya. Dimulai dari terbenamnya matahari, saat imam naik ke mimbar untuk berkhutbah pada hari raya idul adha dan sampai hari terakhir tanggal 13 Dzulhijjah pada hari tasyriq.

Anjuran ini terdapat dalam Kitab Raudlatut Thalibin wa Umdatul Muftin, karya Imam Nawawi.

Disunahkan mengumandangkan takbir pada malam hari raya mulai terbenamnya matahari, dan sangat disunahkan juga menghidupkan malam hari raya tersebut dengan beribadah.

Sebagian fuqaha’ ada yang memberi keterangan tentang beribadah di malam hari raya, yaitu dengan melaksanakan shalat maghrib dan isya’ berjama’ah, sampai dengan melaksanakan shalat subuh berjama’ah.

Kedua, mandi untuk shalat Id sebelum berangkat ke masjid. Hal ini boleh dilakukan mulai pertengahan malam, sebelum waktu subuh, dan yang lebih utama adalah sesudah waktu subuh.

Disunnahkan mandi untuk shalat Id, untuk waktunya boleh setelah masuk waktu subuh atau sebelum subuh, atau pertengahan malam.

Kesunahan mandi adalah untuk semua kaum muslimin, laki-laki maupun perempuan, baik yang akan akan berangkat melaksanakan shalat Id maupun bagi perempuan yang sedang udzur syar’i sehingga tidak bisa melaksanakan shalat Id.

Ketiga, disunahkan memakai wangi-wangian, memotong rambut, memotong kuku, menghilangkan bau-bau yang tidak enak, untuk memperoleh keutamaan hari raya tersebut.

Pada hakikatnya hal-hal tersebut boleh dilakukan kapan saja, ketika dalam kondisi yang memungkinkan, dan tidak harus menunggu datangnya hari raya, misalnya seminggu sekali saat hendak melaksanakan shalat jum’at. Dalam kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab terdapat keterangan mengenai amalan sunnah ini,

Disunnahkan pada hari raya Id membersihkan anggota badan dengn memotong rambut, memotong kuku, menghilangkan bau badan yang tidak enak, karena amalan tersebut sebagaimana dilaksanakan pada hari jum’at, dan disunnahkan juga memakai wangi-wangian.

Keempat, memakai pakaian yang paling baik lagi bersih dan suci jika memilikinya, jika tidak memilikinya maka cukup memakai pakaian yang bersih dan suci, akan tetapi sebagian ulama’ mengatakan bahwa yang paling utama adalah memakai pakaian yang putih dan memakai serban.

Berkaitan dengan memakai pakaian putih, ini diperuntukkan bagi kaum laki-laki yang hendak mengikuti jama’ah shalat Id maupun yang tidak mengikutinya, semisal satpam atau seseorang yang bertugas menjaga keamanan lingkungan. Anjurannya ini tidak terkhususkan bagi yang hendak berangkat shalat saja, melainkan kepada semuanya.

Sedangkan untuk kaum perempuan, cukuplah memakai pakaian yang sederhana atau pakaian yang biasa ia pakai sehari-hari, karena berdandan dan berpakaian secara berlebihan hukumnya makruh, begitu juga menggunakan wangi-wangian secara berlebihan. Dalam Kitab Raudlatut Thalibin dijelaskan,

Disunnahkan memakai pakaian yang paling baik, dan yang lebih utama adalah pakaian warna putih dan juga memakai serban. Jika hanya memiliki satu pakaian saja, maka tidaklah mengapa ia memakainya. Ketentuan ini berlaku bagi kaum laki-laki yang hendak berangkat shalat Id maupun yang tidak. Sedangkan untuk kaum perempuan cukupla ia memakai pakaian biasa sebagaimana pakaian sehari-hari, dan janganlah ia berlebih-lebihan dalam berpakaian serta memakai wangi-wangian.

Sabda Nabi SAW berikut memberi penjelasan tentang memakai pakaian yang paling baik, riwayat dari Sahabat Ibnu Abbas RA,

Rasulullah SAW di hari raya Id memakai Burda Hibarah (pakaian yang indah berasal dari yaman).

Kelima, ketika berjalan menuju ke masjid ataupun tempat shalat Id hendaklah ia berjalan kaki karena hal itu lebih utama, sedangkan untuk para orang yang telah berumur dan orang yang tidak mampu berjalan, maka boleh saja ia berangkat dengan menggunakan kendaraan.

Karena dengan berjalan kaki ia bisa bertegur sapa mengucapkan salam dan juga bisa bermushafahah (Bersalam-salaman) sesama kaum muslimin. Sebagaimana sabda Nabi SAW riwayat dari Ibnu Umar,

Rasulullah SAW berangkat untuk melaksanakan shalat Id dengan berjalan kaki, begitupun ketika pulang tempat shalat Id.

Selain itu dianjurkan juga berangkat lebih awal supaya mendapatkan shaf atau barisan depan, sembari menunggu shalat Id dilaksanakan ia bisa bertakbir secara bersama-sama di masjid dengan para jama’ah yang telah hadir. Imam Nawawi dalam Kitabnya Raudlatut Thalibin menerangkan anjuran tersebut,

Bagi yang hendak melaksanakan shalat Id disunahkan berangkat dengan berjalan kaki, sedangkan untuk orang yang telah lanjut usia atau tidak mampu berjalan maka boleh ia menggunakan kendaraan. Disunnahkan juga berangkat lebih awal untuk shalat Id setelah selesai mengerjakan shalat subuh, untuk mendapatkan shaf atau barisan depan sembari menunggu dilaksanakannya shalat.

Keenam, untuk Hari Raya Idul Adha disunnahkan makan setelah selesai melaksanakan shalat Id, berbeda dengan Hari Raya Idul Fitri disunahkan makan sebelum melaksanakan shalat Id.

Pada masa Nabi SAW, makanan tersebut berupa kurma yang jumlahnya ganjil, entah itu satu biji, tiga biji ataupun lima biji, karena makanan pokok orang arab adalah kurma.

Kebanyakan masyarakat Indonesia makanan pokoknya adalah nasi, akan tetapi jika memiliki kurma maka hal itu lebih utama, jika tidak mendapatinya maka cukuplah dengan makan nasi atau sesuai dengan makanan pokok daerah tertentu.

Diriwayatkan dari Sahabat Buraidah RA, bahwa Nabi SAW tidak keluar pada hari raya Idul Fitri sampai beliau makan, dan pada hari raya Idul Adha sehingga beliau kembali kerumah.

Diriwayatkan juga dari Sahabat Anas RA,

Rasulullah SAW tidak keluar pada hari raya Idul Fitri sampai beliau makan beberapa kurma yang jumlahnya ganjil.

Dengan demikian, anjuran makan pada hari raya Idul Adha adalah setelah selesai melaksanakan shalat Id, alangkah lebih baik jika ia makan kurma sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, akan tetapi jika tidak mendapati kurma, bolehnya ia makan dengan yang lain, misalnya nasi bagi rakyat Indonesia,atau disesuaikan dengan makanan pokok daerah tertentu. (Fuad H Basya)(Kabar Haji)

Dasar Hukum Ibadah Haji dan Umroh

3:17 AM Add Comment
DASAR HUKUM IBADAH HAJI DAN UMROH

Berikut adalah Dasar Hukum Ibadah Haji dan Umroh 



1.        Firman Allah QS. Al-Imran: 97

وَلِلَّهِ عَلىَ النَّاسِ حِجُّ البَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ العَالَمِيْنَ

Artinya : “..Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”.

2.        Firman Allah QS. Al-Hajj ayat 27-28

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالاً وَعَلىَ كُلِ ضَامِرٍ يَأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ(27)  لِيَشْهَدُواْ مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُواْ اسْمَ اللهِ  فِيْ أَيَّامٍ مَّعْلُوْمَاتٍ عَلىَ مَا رَزَقَهُمْ مِّنْ بَهِيْمَةِ الأَنْعَامِ (28)

Artinya : “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak”.

3.        Rosulullah SAW bersabda :

تَعَجَّلُواْ الحَجَّ فَأِنَّ أَحَدَكُمْ لاَ يَدْرِي مَا يَعْرِضُ لَهُ

 Artinya “Hendaklah kamu bersegera mengerjakan haji karena sesungguhnya seseorang tidak akan menyadari halangan yang akan merintanginya”. (HR. Ahmad).

4.        Rosulullah SAW bersabda :

بُنِيَ الاِسْلاَمُ عَلىَ خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاتِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانِ

“Islam itu didirikan di atas 5 (lima) pilar : syahadat tiada ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad Rosulullah, mendirikan shalat, membayar zakat, haji ke Baitullah dan  puasa di bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari & Muslim)

5.        Rosulullah SAW bersabda :

مَنْ مَلَكَ زَادًا وَرَاحَلَةً فَلَمْ يَحُجَّ فَلاَ عَلَيْهِ أَنْ يَمُوْتَ يَهُوْدِيًا أَوْ نَصْرَانِيًا

“Barang Siapa yang telah memiliki bekal dan kendaraan lalu dia tidak berhaji, hendaklah ia mati dalam keadaan menjadi orang Yahudi, atau Nasrani”. (HR. At-tirmidzi dari Ali).

6.        Firman Allah QS. Al-Baqoroh, Ayat 196

وَأَتِمُّوْا الحَجَّ وَالعُمْرَةَ لِلَّهِ

Artinya: “ Dan sempurnakanlah Ibadah Haji dan umroh karena Allah”. (Kabar Haji)

Mengapa Di Indonesia Ada Gelar Haji?

11:31 AM Add Comment
Mengapa Di Indonesia Ada Gelar Haji? - elar haji Konon hanya dipakai oleh bangsa melayu. Tidak ada dalil yang mengharuskan jika setelah menunaikan ibadah haji harus diberi gelar haji/hajjah. Bahkan sahabat Rasulullah pun tidak ada yang dipanggil haji.

Sejarah pemberian gelar haji dimulai pada tahun 654H, pada saat kalangan tertentu di kota Makkah bertikai dan pertikaian ini menimbulkan kekacauan dan fitnah yang mengganggu keamanan kota Makkah.


Karena kondisi yang tidak kondusif tersebut, hubungan kota Makkah dengan dunia luar terputus, ditambah kekacauan yang terjadi, maka pada tahun itu ibadah haji tidak bisa dilaksanakan sama sekalai, bahkan oleh penduduk setempat juga tidak.

Setahun kemudian setelah keadaan mulai membaik, ibadah haji dapat dilaksanakan. Tapi bagi mereka yang berasal dari luar kota Makkah selain mempersiapkan mental, mereka juga membawa senjata lengkap untuk perlindungan terhadap hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan perengkapan ini para jemaah haji ibaratkan mau berangkat ke medan perang.

Sekembalinya mereka dari ibadah haji, mereka disambut dengan upacara kebesaran bagaikan menyambut pahlawan yang pulang dari medan perang. Dengan kemeriahan sambutan dengan tambur dan seruling, mereka dielu-elukan dengan sebutan “Ya Hajj, Ya Hajj”. Maka berawal dari situ, setiap orang yang pulang haji diberi gelar “Haji”.

Gelar Haji di Indonesia

Di zaman penjajahan belanda, pemerintahan kolonial sangat membatasi gerak-gerik umat muslim dalam berdakwah, segala sesuatu yang berhubungan dengan penyebaran agama terlebih dahulu harus mendapat ijin dari pihak pemerintah belanda. Mereka sangat khawatir dapat menimbulkan rasa persaudaraan dan persatuan di kalangan rakyat pribumi, lalu menimbulkan pemberontakan.

Masalahnya, banyak tokoh yang kembali ke tanah air sepulang naik Haji membawa perubahan. Contohnya adalah Muhammad Darwis yang pergi haji dan ketika pulang mendirikan Muhammadiyah, Hasyim Asyari yang pergi haji dan kemudian mendirikan Nadhlatul Ulama, Samanhudi yang pergi haji dan kemudian mendirikan Sarekat Dagang Islam, Cokroaminoto yang juga berhaji dan mendirikan Sarekat Islam.

Hal-hal seperti inilah yang merisaukan pihak Belanda. Maka salah satu upaya belanda untuk mengawasi dan memantau aktivitas serta gerak-gerik ulama-ulama ini adalah dengan mengharuskan penambahan gelar haji di depan nama orang yang telah menunaikan ibadah haji dan kembali ke tanah air. Ketentuan ini diatur dalam Peraturan Pemerintahan Belanda Staatsblad tahun 1903. Pemerintahan kolonial pun mengkhususkan P. Onrust dan P. Khayangan di Kepulauan Seribu jadi gerbang utama jalur lalu lintas perhajian di Indonesia.

Jadi demikianlah, gelar Haji pertama kali dibuat oleh pemerintahan kolonial dengan penambahan gelar  huruf  “H” yang berarti orang tersebut telah naik haji ke mekah. Seperti disinggung sebelumnya, banyak tokoh yang membawa perubahan sepulang berhaji, maka pemakaian gelar H akan memudahkan pemerintah kolonial untuk mencari orang tersebut apabila terjadi pemberontakan.

Uniknya, pemakaian gelar tersebut sekarang malah jadi kebanggaan. Tak lengkap rasanya bila pulang berhaji tak dipanggil "Pak Haji" atau "Bu Hajjah". Ritual ibadah yang berubah makna menjadi prestise?  Ironis... (Kabar Haji)